Film Dokumenter Tonotwiyat Karya Sineas Jayapura Masuk Nominasi FFI 2019

Empat Judul Film yang masuk Nominasi Film Dokumenter Panjang di Ajang FFI 2019 / Istimewa

JAYAPURA - Film dokumenter berjudul Tonotwiyat atau Hutan Perempuan karya sineas Jayapura yang tergabung dalam komunitas Imaji Papua masuk dalam nominasi film dokumenter panjang di ajang bergengsi Festival Film Indonesia (FFI) 2019.

Tonotwiyat diambil dari bahasa Enggros yang berarti Hutan Perempuan. Film ini menceritakan tentang kehidupan perempuan Enggros yang berupaya untuk mempertahankan kearifan lokal, yakni dengan cara mencari bia (kerang) dan ikan, sesuai dengan tradisi yang diwariskan turun menurun.

Film ini diproduksi secara independen oleh Imaji Papua yang merupakan sebuah komunitas yang mengembangkan konten-konten kreatif di Jayapura dan salah satunya adalah memproduksi film independen.

"Saya sungguh tidak menyangka dan sama sekali diluar ekspektasi saya bahwa film ini berhasil masuk dalam ajang tertinggi bagi sineas Indonesia, yakni Festival Film Indonesia 2019. Saya sangat bersyukur karenanya," ujar Sutradara Film Tonotwiyat, Yulika Anastasia Indrawati, Selasa (29/10).

Ia menceritakan, perjalanan film ini cukup panjang. Dimulai dari riset pada tahun 2018 dan diproduksi pada Februari - Maret 2019, dengan latar belakang sebagai sebuah kepedulian terhadap lingkungan dan kearifan lokal yang ada di Kota Jayapura sekaligus mengaktualisasikan jiwa seni film.

"Dalam masa pra produksi hingga produksi sebenarnya ada banyak kendala yang dihadapi yakni minimnya budget dan peralatan yang minimal. Meski demikian kami tetap bertekad untuk bisa menghasilkan sebuah karya yang mengangkat nilai-nilai luhur budaya Papua," ungkapnya.

Film yang diputar perdana pada 24 Juni lalu di Abepura ini juga akan diikutkan dalam kompetisi Festival Film Dokumenter (FFD) Jogjakarta yang akan diselenggarakan pada 1-7 Desember mendatang. Film ini akan diputar disana dan FFD Jogja sekaligus menjadi world premiere atas film ini.

"Saya pribadi berterimakasih kepada Kepala Kampung Enggros Bapak Orgenes Meraudje, Mama Lian Youwe, Mama Ani Meraudje dan warga Kampung Enggros karena dengan keterbatasan yang bersedia menjadi subyek dalam film ini dan banyak membantu kami di lapangan," terangnya.

Lewat akun twitter resmi @PialaCitra2019, telah diumumkan nominasi kategori film dokumenter panjang. Tonotwiyat akan bersaing dengan tiga film dokumenter lainnya yang juga ikut dinominasikan.

"Harapan saya secara pribadi yakni film ini sampai pada tahapan bisa diputar dalam ajang festival internasional atau dilakukan internasional premiere," imbuhnya.

Film dokumenter Tonotwiyat (Hutan Perempuan) disutradarai oleh Yulika Anastasia Indrawati, dengan Alfonso Dimara sebagai Director of Photography, dan melibatkan sejumlah kru diantaranya Hermalina Windessy, Robby Seseray dan Nunung Kusmiaty.**