Uskup Leo Laba Ladjar,OFM: Sebelum Pandemi Corona Telah Muncul Tanda Besar Persaudaraan Insani

Uskup Jayapura Leo Laba Ladjar, OFM /Istimewa

JAYAPURA,wartaplus.com - Sebelum pandemi Coronavirus Disease (Covid)-19 yang mengharuskan umat manusia di muka bumi ini bersatu, bersetiakawan (solider), bekerjasama dalam semangat persaudaraan sejati untuk menanggulangi pandemi ini, telah lebih dahulu muncul tanda besar persaudaraan insani yang tampak dari perjumpaan bersejarah Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb.

Hal itu disampaikan Pemimpin umat Katolik Keuskupan Jayapura, Uskup Leo Laba Ladjar,OFM ketika memimpin perayaan Misa Malam Paskah yang disiarkan live streaming dari Katedral Kristus Raja, Kota Jayapura, Sabtu (11/4). “Pandemi Corona mengingatkan kita bahwa manusia itu sangat rapuh, sekaligus Corona mengajak umat manusia meninggalkan sikap ingat diri, berhenti berperang dan bertikai untuk segera membangun semangat persaudaraan, solidaritas dan kerjasama guna menanggulangi pandemi yang mematikan ini, “kata Uskup Leo laba Ladjar,OFM dalam kotbahnya itu.

Tanda persudaraan itu sudah lebih dahulu muncul dengan lahirnya Deklarasi Persaudaraan Insani untuk perdamaian dunia dan hidup bersama lantaran kita semua mau hidup damai dalam semngat persaudaraan itu. Uskup Leo menjelaskan, perjumpaan Paus Fransiskus dengan Imam Besar AlAzhar, Ahmad Al-Tayyeb merupakan sebuah tanda besar dunia karena sebelumnya, negara-negara Islam dikenal tertutup dengan Kristen, namun kini telah ada keterbukaan satu sama lain dan melahirkan tekad bersama untuk mengupayakan persaudaraan insani demi tercipta perdamaian dunia. “Semangat persudaraan dan kerjasama ini justru sangat dibutuhkan saat ini ketika dunia dilanda pandemi Corona yang mematikan itu,” kata Uskup Leo.

Sebelum berkotbah tentang penting dan mendesaknya umat manusia membangun persaudaraan insani untuk perdamaian dunia dan hidup bersama dalam menghadapi pandemi Corona, pada Selasa, 4 Februari 2020 lalu, Uskup Leo Laba Ladjar,OFM berama para pemuka dan pemimpin agama-agama Papua berkumpul di Jayapura menggelar seminar sehari mendiskusikan isi dokumen Deklarasi Persaudaraan Insani tersebut.

Pada kesempatan seminar itu, Uskup Leo Laba Ladjar, OFM mengisahkan, pada tanggal 3 hingga 5 Fabruari 2019 lalu, Pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus berkunjung ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Kunjungan itu, seperti umumnya, adalah kunjungan pastoral dan sekaligus kenegaraan; untuk menguatkan iman umat kristiani-katolik yang tersebar di sana dan membangun relasi yang baik dengan pemerintah setempat. Ini adalah kunjungan pertama seorang Paus ke salah satu negara di jazirah Arab. Paus Fransiskus mengambil inisiatif untuk mengadakan kunjungan itu sebagai peringatan 800 tahun perjumpaan Fransiskus Assisi dengan Sultan Mesir, Malik al-Kamil. Waktu itu, 800 tahun yang lalu, di tengah berkecamuknya “perang salib” (atau “perang sabil”?) antara dunia Arab yang Islam dan Eropa yang Krtistiani, Fransiskus Assisi mengambil insiatif untuk satu misi damai.

Dengan fisik yang rapuh dan kepribadian yang polos, Fransiskus Assisi nekat melintasi pasukan-pasukan perang kedua pihak. Dia tidak dihabisi oleh pasukan “Sarasen” (sebutan untuk pasukan Islam) seperti dikuatirkan. Ia pergi bertemu dengan Sultan Mesir dengan motivasi yang serupa yaitu membangun hubungan damai dengan menghentikan perang. Suasana kunjungan Paus Fransiskus dan acara-acara penyambutannya di UEA saat itu amat ramah.

Terungkap persahabatan yang ternyata sudah terjalin antara Sri Paus dan Pemimpin Islam. Dunia Arab ternyata tidak begitu tertutup seperti dibayangkan banyak orang. Toleransi agama ternyata tinggi. Momen kunjungan Paus adalah “Tahun Toleransi” di Uni Arab Emirat yang dicanangkan sejak 2017. Ada kementerian khusus, “Kementerian Tolernsi”.

Di Abu Dhabi ada gereja katedral “Saint Joseph”, satu dari dua gereja katolik di ibu kota Emirates. Ada sembilan paroki yang berkembang di UAE. Di dekat katedral St Joseph terdapat satu mesjid besar. Keterbukaan dan ungkapan toleransi UAE sungguh mengagumkan ketika Sheikh Mohammaed bin Sayeb memberi nama baru untuk mesjid itu menjadi “Mesjid Agung Maria Bunda Yesus”.

Menurut Uskup Leo, komitmen yang dibangun bersama antara dua pemimpin umat beragama Paus Fransikus dan Syeikh Ahmad Al-Tayyeb menyatakan bahwa kedua belah pihak,Al-Azhar al-Sharif dan kaum Muslim bersama Gereja Katolik dan Umat Katolik menerima budaya dialog sebagai jalan, kerja sama timbal-balik sebagai kode tingkah laku, saling pengertian sebagai metode dan standar, demi mewujudkan nilai-nilai luhur itu: secara khusus persaudaraan insani, kebebasan, keadilan dan belas kasih.

Kepada para pemimpin dunia serta arsitek kebijakan internasional dan ekonomi dunia diserukan agar bekerja keras dan menyebarkan budaya toleransi dan hidup bersama dalam damai, dan agar secepatnya berintervensi untuk mencegah dan menghentikan penumpahan darah dan mengakhiri perang, serta segala bentuk kekerasan, dan pengrusakan lingkungan, moral dan budaya.

“Selain itu, kepada kaum intelektual, tokoh agama, budayawan dan penggiat media diserukan untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan” kata Uskup Leo pada kesempatan seminar sehari itu. *