Saatnya Anak Papua Duduki Posisi Wakapolri, Menakar Peluang Paulus Waterpauw Meraih Bintang Tiga

Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw/Istimewa

Oleh : Victor Abraham Abaidata, SH

SALAH satu  isu-isu politik dalam hal keberpihakan Negara merawat kebhinekaan dan menjaga keindonesiaan, adalah bagaimana Pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada SDM Papua untuk berkiprah mengisi posisi-posisi strategis di daerah lain di Indonesia termasuk di pusat pemerintahan dalam berbagai bidang dan institusi.

Sehingga hal itu bisa dilihat sebagai bentuk political will Pemerintah untuk menempatkan orang Papua sebagai bagian dari Republik Indonesia, dan juga secara tidak langsung bisa semakin memperteguh dan meminimalisir “perasaan diskriminatif” masyarakat Papua yang merasa di anak tirikan dalam rumahnya yang bernama NKRI, di tengah arus serbuan kaum urban dari banyak daerah ke Tanah Papua.

Pasca Pilpres 2019 yang telah menghantar kemenangan Pasangan Capres-Cawapres 01 Jokowi-Ma'ruf Amin dengan perolehan 85.607.362 suara atau 55,50 persen dari total suara sah nasional, yakni, 154.257.601, Tanah Papua turut menyumbangkan kemenangan tersebut dengan perolehan suara untuk Papua, dari 2.026.735/ 72,49 persen (2014) menjadi 3.021.713/ 90 persen (melebihi dari target minimal 85 persen), dan Papua Barat, dari 360.379/ 67,63 persen menjadi 508.997/ 78 persen. 

Wacana dan aspirasi dari seluruh pelosok negeri hingga Tanah Papua kian gencar kepada Ir. Joko Widodo – KH. Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih, untuk mempertimbangkan representasi keterwakilan daerah di dalam kabinet pemerintahannya yang akan segera di bentuk, tentu dengan tetap mempertimbangkan aspek profesionalitas, kapasitas, kapabilitas, kredibilitas dan akseptabilitas figure yang akan dipilih.

Tentunya masyarakat Papua juga tidak ingin ketinggalan kereta dalam mendorong figure – figure tokoh asal Papua yang di pandang mumpuni untuk mengisi beberapa posisi strategis baik di dalam pemerintahan maupun di beberapa institusi negara lainnya, termasuk institusi TNI/Polri.

Mengingat saat ini SDM Papua di dua institusi tersebut juga telah melahirkan sejumlah “jenderal” yang telah melalui serangkaian proses karir berjenjang dan siap untuk di pakai negara guna merawat kebhinekaan Indonesia yang kokoh, maju, berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

Jenderal Pertama

Di institusi TNI ada 3 Jenderal dari Papua yang dipercaya menduduki beberapa jabatan strategis diantaranya Mayjen. TNI Joppye Onesimus Wayangkau (Akmil 1986) yang saat ini dipercaya sebagai Pangdam XVIII/ Kasuari, Mayjen. TNI Herman Asaribab (Akmil 1988) yang dipercaya menjabat Pangdam XII/ Tanjungpura dan Brigjen. 

Foto: Paulus Waterpauw saat menjadi Komandan Upacara di Istana Negara  tanggal 17 Agustus 2006/Istimewa

TNI Ali Hamdan Bogra (Akmil 1987) yang dipercaya sebagai Bandep Lingkungan Sosial Setjen Wantanas.

Sedangkan di institusi Kepolisian RI, ada 2 Jenderal terbaik asal Papua yakni, Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw yang menjabat sebagai Pati Lemdiklat POLRI, dan Brigjen. 

Pol. Drs. Pietrus Waine, SH.,M.Hum (Akpol 1989) yang dipercaya sebagai Widyaiswara Madya Sespim Polri sejak Agustus 2017.

Keberadaan 5 Jenderal asal Papua tersebut tentu menjadi icon dan kebanggan masyarakat di Tanah Papua dan diharapkan mampu mengikuti jejak dan langkah seniornya, Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi, sebagai Jenderal pertama orang Papua dan Jenderal terbaik di TNI AL yang menguasai 7 bahasa asing dan ahli kemaritiman, pernah menjabat yakni, Komandan Satuan Tugas Proyek Pengadaan Kapal Parchim, Frosch, dan Kondor (1995-1996), Komandan Pangkalan Utama TNI AL V Irian Jaya – Maluku (1996-1998), Gubernur Irian Jaya/ Papua ke-11 (1998-2000), Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara RI ke-8 (1999-2000), Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI untuk Italia, Malta dan Albania, serta Wakil Tetap RI untuk Organisasi Internasional di bawah PBB yaitu FAO, IFAD dan WFP yang berkantor di Roma, Italia (2001-2004), Menteri Kelautan & Perikanan RI ke-3 (2004-2009), dan Menteri Perhubungan RI ke-35 (2009-2011).

Menyimak sosok dan jejak langkah Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw dalam berkarir di institusi POLRI selama 32 tahun, tentu harapan besar masyarakat Papua apabila lulusan Akademi Polisi Angkatan 1987 yang telah membuktikan kemampuannya bisa di percaya negara untuk menduduki posisi strategis di institusi POLRI saat ini, apalagi bila bisa dipercaya sebagai Wakapolri, tentu saja menjadi kebanggaan dan sekaligus tercatat dalam lembaran sejarah di periode kedua Presiden Jokowi.

Wacana, aspirasi dan ekspektasi terhadap sosok mantan Kapolsek Metro Menteng Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1999 – 2000), Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw untuk bisa meraih “bintang tiga”-nya tentu bukan semata-mata pertimbangan politik, namun, prestasi, track record dan rekam jejak serta kemampuan, Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw yang telah dua kali memimpin Polda Tipe A, di Papua dan Sumatera Utara layak untuk di promosikan ke jenjang karier yang lebih tinggi.

Merintis karir sebagai Pamapta Polresta Surabaya Timur Polda Jawa Timur (1987 – 1988) setelah menamatkan pendidikan Akpol Angkatan 1987 hingga saat ini sebagai Perwira Tinggi (Pati) Lemdiklat Polri, menjadi bukti kapasitas Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw untuk mendapatkan kepercayaan lebih tentunya.

Sosok yang mulai ramai jadi perbincangan dan menjadi icon kebanggaan masyarakat Papua itu mulai bersinar sejak berpangkat Kombes. Pol. dan menjabat sebagai Direskrim Polda Papua ketika di daulat sebagai putra Papua yang pertama dalam sejarah terpilih sebagai Komandan Upacara pada Upacara Detik – Detik Proklamasi HUT Kemerdekaan RI ke-61, 17 Agustus 2006 di Istana Negara, Jakarta, dengan Inspektur Upacara Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. 

Terpilih menjadi komandan upacara melalui seleksi super ketat dari empat matra (TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU dan POLRI),

Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw juga adalah Jenderal pertama Papua dari Kepolisian, yang pertama menjabat sebagai Kapolda Papua Barat ketika Polda Papua Barat pertama kali dirintis/ dibentuk, bahkan ia juga tercatat sebagai Jenderal pertama Papua yang menjabat sebagai Kapolda Papua (setelah 15 tahun silam Brigjen. Pol. Drs. Ayub Sawaki (Alm.), untuk pertama kali OAP menjabat sebagai Waka Polda Irian Jaya).

Dipercaya

Prestasi lainnya sebagai “yang pertama”, Paulus Waterpauw adalah Jenderal pertama Papua yang dipercaya negara sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamaman Polri.

Bahkan Paulus Waterpauw adalah Jenderal pertama orang Papua yang dipercaya sebagai Kapolda Sumatera Utara sejak Juli 2017 hingga Agustus 2018 dan untuk pertama kalinya dalam sejarah menjabat Kapolda di luar Tanah Papua.

 

Foto: Victor Abraham Abaidata, SH/Istimewa

Bila kita ingin mengulik jejak prestasi sosok Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw dalam institusi kepolisian, rasanya tidak cukup halaman untuk membahasnya satu persatu lewat tulisan ini, dan selama 32 tahun pengabdiannya di kepolisian, Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw tidak pernah cacat dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya.

Sebaliknya justru berprestasi dan meninggalkan kesan yang baik selama bertugas, mulai dari mengawali karier di Kepolisian di wilkum Polda Jawa Timur, Polda Kalimantan Tengah, Polda Metro Jaya, Polda Papua, Polda Papua Barat, Mabes POLRI, Polda Sumatera Utara hingga di Lemdiklat Polri.

Hal itu bisa di lihat dari sejumlah tanda kehormatan yang telah di perolehanya, diantaranya Tanda Kehormatan Bintang Bhayangkara Naraya dan Tanda Jasa Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun; Satya Lencana Kesetiaan 16 Tahun, Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun, Satya Lencana Jana Utama, Satya Lencana Dwidya Sistha, dan Satya Lencana Dharma Nusa.

Sehingga aspirasi dan ekspektasi masyarakat Papua di HUT RI Ke - 74 ini, dan jelang 20 tahun pelaksanaan UU Otsus Provinsi Papua, Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw mendapatkan promosi meraih “bintang tiganya” dan mendapatkan kepercayaan menduduki salah satu posisi strategis di tubuh Kepolisian RI yang saat ini tengah lowong diantaranya Kabareskrim, Kabarhankam, dan Wakapolri. 

*Penulis adalah Sekretaris Tim Cakra 19 Papua