Kapten Philips Memohon Aparat Keamanan Tidak Mengebom Lokasi Tempatnya Disandera

Tangkapan layar video Pilot Susi Air Kapten Philips yang beredar di media sosial/Istimewa

JAYAPURA, wartaplus.com - Kurang lebih tiga bulan disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata Egianus Kogoya, Pilot Susi Air, Kapten Philips Mark Merthens kembali muncul dalam sebuah video yang diunggah di media sosial.

Dalam video berdurasi satu menit tiga puluh delapan detik itu tampak Philip Mark Merthens diapit oleh dua orang yang diduga anggota Kelompok Bersenjata, Egianus Kogoya. Ia menjelaskantentang kondisinya setelah tiga bulan disandera.

"Sudah tiga bulan sejak saya ditangkap di Paro (Distrik Paro,red) saya masih sehat. Saya makan dan minum dengan baik. Saya jalan dan duduk bersama masyarakat disini, tidak ada masalah," katanya dalam video yang beredar.

Selain itu, pilot berkewarganegaraan Selandia Baru itu meminta agar aparat tidak menggunakan bom dalam melakukan penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata. 

"Kepada Indonesia tidak usah lepas bom karena itu berbahaya bagi saya dan orang-orang disini," pintanya. 

Propaganda

Menanggapi video tersebut, Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz, Kombes Pol Donny Charles Go angkat bicara. Charles mengatakan saat ini pihaknya tengah mendalami kebenaran dari video tersebut.

"Terlepas video ini benar atau rekayasa, namun ada informasi penting yang ditunjukkan bahwa kondisi pilot dalam keadaan hidup dan sehat sesuai dengan hasil analisa tim ahli gabungan TNI-Polri," ujarnya.

Sementara terkait penyerangan menggunakan bom, Kasatgas Humas memastikan bahwa informasi itu merupakan propaganda yang sengaja dibuat untuk menyudutkan TNI-Polri.

"Itu merupakan informasi propaganda karena selama ini aparat TNI-Polri yang berada di lapangan hanya berupaya untuk mempersempit ruang gerak KKB yang menyadera pilot susi air. Kalaupun ada serangan dari TNI-Polri, tentunya itu merupakan tembakan balasan atas serangan KKB yang mengancam jiwa anggota TNI-Polri," terangnya. 

"Dengan demikian kami tegaskan, aparat TNI-Polri tidak menggunakan bom saat bertugas di lapangan," tandasnya.**