Pernah Diancam Dibunuh oleh Egianus Kogoya, Danrem JO: Coba Buktikan Omonganmu Sekarang!

Danrem 172/PWY Brigjen TNI J.O Sembiring saat diwawancarai wartawan/Penrem172

JAYAPURA, wartaplus.com - Danrem 172/PWY Brigjen TNI J.O Sembiring menantang Egianus Kogoya untuk membuktikan ucapannya dalam video yang sempat viral di media pada Agustus 2022 lalu.

"Dalam video tersebut, Egianus Kogoya mengancam saya untuk tidak memasuki Aluguru (markas Egianus di Nduga,red) sebab jika tidak saya akan pulang tinggal nyawa," ungkap Danrem 172/PWY Brigjen TNI J.O Sembiring kepada wartawan, Jumat (10/03).

"Maka dari itu, sampaikan kepada KST Egianus Kogoya buktikan omongannya bahwa Aluguru sudah dikuasai dan duduki Tim Gabungan TNI Polri," tegas Danrem yang juga selaku Dankolaksops TNI dalam misi penyelamatan pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Mehrtens yang disandera kelompok Egianus Kogoya sejak awal Februari lalu.

Bangun Aluguru

Danrem juga mengimbau kepada Pemerintah Kabupaten Nduga dalam hal ini kepada Penjabat Bupati, Namia Gwijangge untuk membangun di Aluguru.

"Kepada Bupati, silahkan membangun Aluguru. Karena daerahnya subur, sehingga Pemerintah Kabupaten Nduga sudah merencanakan tata ruang Aluguru sebagai daerah pertanian dan perkebunan," kata Danrem.

Menurut ia, sejak kurang lebih 5 tahun, Aluguru dijadikan markas oleh KST, membuat masyarakat sulit mencari nafkah, anak-anak kecil tidak sekolah dan kegiatan lainnya terganggu. 

"Untuk itu perlu kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Nduga dengan Pemerintah Pusat untuk membuka isolasi ke Kampung Aluguru dengan membangun jembatan agar stigma Aluguru merupakan markas KST dapat hilang," jelasnya.

Danrem juya meminta KST Egianus Kogoya dan Elkius Kobak beserta kelompoknya jangan membunuh masyarakat.

"Kalau mau bertempur, ya cari yang sepadan. Karena masyarakat hidup untuk bekerja memenuhi nafkah keluarganya," tegasnya.

Lanjut ungkap Danrem, KST Egianus Kogoya sudah diingatkan oleh pendeta asal Kampung Wosak untuk tidak membunuh masyarakat di Kampung Nogoloit setahun lalu. Namun justru pendeta tersebut ditembak mati bahkan pada bulan Februari 2023 yang lalu KST Egianus Kogoya kembali membunuh anak kecil suku Papua dari  tokoh masyarakat Kampung Pimbinom bernama Yuangga Tabuni hanya karena tidak mampu memberi makan terhadap KST Egianus Kogoya.

Di kesempatan itu, Danrem mengajak semua tokoh untuk bersama bahu membahu membangun Papua.

"Tidak ada stigma TNI Polri melakukan penyisiran, karena tugas TNI Polri memiliki tugas sesuai Inpres no. 9 tahun 2020 perintah Presiden kepada TNI Polri untuk wujudkan perdamaian kedamaian di tanah Papua serta dukung pembangunan yang dilakuan Pemerintah Daerah dan TNI siap mendukung serta menjaga perencanaan dan pembangunan," tegasnya lagi.

Anak dan Perempuan jadi Tameng

Ia menambahkan, upaya-upaya yang dilakukan TNI Polri untuk menangkap Egianus Kogoya dan kelompoknya memang mengalami kendala, salah satunya karena KST Egianus Kogoya selalu membawa anak-anak kecil, kaum perempuan dan mama mama sebagai tameng.

"Namun saya sampaikan semua itu adalah tantangan, sehingga saya tekankan kepada prajurit dalam bertempur harus cerdas dengan sasaran terpilih. Dan sampai saat ini sudah profesional dengan tidak melakukan bombardir pemukiman dan tidak membakar rumah maupun honai milik masyarakat, karena masyarakat tidak semua mendukung kepada KST, namun karena takut," ungkap Danrem.

'Kami akan terus berupaya cegah stigma buruk kepada TNI karena tugas pokok TNI sudah jelas yaitu menegakkan kedaulatan, menjaga keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa di Papua," kata Danrem 172/PWY.

Sehingga jika ada pihak-pihak yang masih mendukung KST Egianus Kogoya maka patut diduga mereka adalah bagian dari jaringan KST.

Sementara itu, menyikapi beredarnya video Pilot Susi Air, Danrem mengatakan hal tersebut merupakan bagian dari propaganda pihak KST yang mendapat  arahan dari Semby Sambom yang merupakan bagian dari jaringan teroris.

Danrem juga menyoroti bagaimana kelompok Elkius Kobak awalnya merasa bangga karena tidak membunuh warga sipil seperti Egianus Kogoya, namun kenyataannya beberapa hari lalu Kamis (09/03) sudah membunuh dua warga sipil di Yahukimo.

"Membunuh masyarakat sipil yang tidak bersenjata dan menyandera pilot adalah tindakan pengecut," pungkas Danrem.**