Organisasi Papua Merdeka Kirim Utusan Saksikan  Referendum  Bougainville

Delegasi West Papua di bawah koordinasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyaksikan Referendum Bougainville/Istimewa

JAYAPURA-Delegasi West Papua di bawah koordinasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyaksikan Referendum Bougainville di hari terakhir, Sabtu (7/12). Dalam rilis yang diterima referendum Bougainville telah dimulai tanggal 23 November 2019 dan berakhir Tanggal 7 Desember 2019.

“Sesuai jadwal yang telah disepakati oleh Pemerintah PNG dan pemerintah otonom Bougainville. Panitia Referendum Bougainville telah kerja keras, yaitu pemungutan suara telah dilakukan di seluruh wilayah negeri Bougainville dan juga di seluruh wilayah di PNG. Degelasi resmi atas nama bangsa Papua yaitu dari OPM dan TPNPB serta KNPB telah menyaksikan referendum. Hal ini merupakan penghargaan dan menjunjung tinggal nilai solidaritas sesama bangsa yang telah dan sedang berjuang untuk hak politik penentuan nasib sendiri,”ungkap Juru bicara  Komando  Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)-Organisasi Papua Merdeka (OPM) Tuan Sebby Sambom kepada Wartaplus.com, Minggu pagi.

Dikatakan, Ketua OPM Jeffrey Bomanak dan tim delegasinya yaitu dari KNPB dan TPNPB, telah menunjukan solidaritas dan kebersamaan sesuai perjanjian kerja sama antara OPM dan TPNPB bersama Bougainville Revolution Army (BRA) sebelumnya. “Hal ini menunjukan kedua bangsa memiliki ikatan kekeluarkaan yang bersahabat dan harmonis, dan bersahabatan ini akan bertumbuh sepanjang kedua bangsa ini hidup,”ujarnya.

Seperti diketahu referendum kemerdekaan Bougainville dari Papua Nugini digelar hari ini, Sabtu (23/11). Daerah kaya sumber daya alam itu kemungkinan besar akan segera jadi negara merdeka.

Kemeriahan dan antusiasme warga begitu terasa di pulau bagian timur Papua Nugini tersebut. Warga setempat memang sudah berpuluh-puluh tahun menantikan kemerdekaan dan akhir dari konflik dengan Papua Nugini.

Konflik bersenjata antara pemerintah Papua Nugini dengan pemberontak Bougainville terjadi pada 1988-1997. Sekitar 20 ribu nyawa melayang akibat perang tersebut. Pada 1998, kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang bertahan sampai sekarang. Referendum merupakan bagian dari kesepakatan tersebut.*