Papua: Ruang Kemanusiaan Yang Absurd

Ilustrasi/wartaplus.com

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

Saya teringat kata-kata Baba kepada Amir dalam buku The Kite Runner karya novelis Afganistan, Khaled Hoseinni. Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorangsuami dari istrinya, kau merampok ayah dari anak-anaknya.”

Beberapa hari yang lalu, pada malam hari, tepatnya pada tanggal 3 Desember, pukul 23.55 WIT seorang kawan, dosen muda di Universitas Timor (Unimor), mengontak saya. Waktu saya lihat handphone, ternyata dia sudah mengontak sebanyak tiga kali.

Saya akhirnya mengontaknya kembali, tapi dia tak menjawab. Tak butuh waktu lama, dia kemudian mengontak saya kembali. Kami akhirnya saling terhubung. Ini tidak biasa. Suaranya bergetar, dengan nada khawatir dia katakan, “Pace, apakah tahu kasus penembakan di Nduga?”

Saya bilang saya tak tahu. Lalu saya tanya, “kapan kejadian itu terjadi?” Terus dia katakan, hari ini. Saya lalu bertanya,“dapat informasi dari mana?” Dia bilang dari Kompas.

Dia menjelaskan jika dia dan keluarga sangat khawatir karena kakanya sedang bekerja di Nduga, Papua. Daerah yang berdasarkan pemberitaan media adalah tempat pembunuhan 21 pekerja pembangunan jembatan oleh kelompok sipil bersenjata.

Saya belum mengetahui persis berita tentang kasus penembakan itu. Tapi saya berani katakan, “Pasti bukan OPM, sebab OPM tidak menyerang masyarakat sipil. Saya percaya kaka pasti sehat dan selamat, hanya saat ini belum memberi kabar saja.”

Antara tanggal 4, 5 dan 6 keluarga menunggu kabar sambil berdoa. Mereka berharap sang kakak dapat selamat dalam tragedi ini. Sekitar tanggal 5 atau 6 Desember, sang kawan memasang status WA yang menyatakan bahwa kakaknya telah meninggal dunia. Saya menyampaikan turut berduka cita, tapi dia katakan bahwa berita meninggalnya sang kaka masih simpang siur dan banyak versi, sehingga keluarga bingung.

Saya merasa aneh. Saya sarankan untuk mereka (keluarga) menunggu informasi yang bertanggung jawab dan akurat dari pihak kepolisian atau pihak perusahaan dimana sang kaka bekerja.

Namun kemarin, (tanggal 7 Desember), semua berubah. Harapan berubah menjadi duka. Penantian berubah menjadi perpisahan. Sang kaka dinyatakan telah meninggal dunia.  Siang (kemarin), ketika saya membuka WA, sang kawan memberi kabar: “Pace. Kaka sudah meninggal.

Kami sudah lihat fotonya. Semoga Kaka Eman diterima disisi Kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa.” Dia melanjutkan, “Kami tidak menyangka, ternyata kebaikan Kaka dibalas dengan cara yang jahat sekali.”

Pesan ini tentu membuat saya terpukul. Saya hanya bisa membalas pesan kawan saya; “Kaka pergi sebagai pahlawan. Karyanya untuk Tanah Papua takkan dilupakan. Tuhan melihatnya, lebih jauh melihat ketulusan hatinya. Tuhan memberinya kebahagian kekal.”

Cerita dari kawan saya (keluarga korban) mungkin saja dialami oleh keluarga korban yang lain, walaupun dalam versi yang berbeda. Sang Kaka dari teman saya, bernama lengkap Emanuel Beli Naikteas Bano. Ia adalah orang Kefa, Timor. Dia beragama Katolik. Kelahiran 1985 dan sekarang berumur 33 tahun. Saya tak pernah berjump dengannya. Sampai dengan ia meninggal, kami berkawan di BBM.

Merenungkan Kembali Kemanusiaan

Eman Bano, dan juga yang lain dalam tragedi ini adalah narasi besar tentang kemanusian tanah ini. Jauh sebelum kejadian ini, anak kandung pemilik tanah ini sudah mendapat perlakuan dengan cara yang sama. Tersangkanya berbeda, korbannya pun berbeda. Walaupun demikian, dua perbedaan ini tak bisa membalik konsep kita tentang manusia dan kemanusiaan.

Manusia tetaplah manusia. Dibalik parasnya dan wajahnya, kita menemukan sosok yang Ilahi. Senyumnya dan hatinya adalah jejak-jejak Ilahi yang nampak nyata dalam ruang kehidupan kita. Oleh sebab itu, manusia disebut sebagai imago dei, karena serupa dan segambar dengan Allah.

Peristiwa di Nduga, dan yang terjadi di Papua selama ini telah menjauhkan kita dari konsep itu. Konsep manusia menjadi sangat absurd. Tentu ini sangat menyedihkan.

Siapapun korbannya, siapapun pelakunya, dehumanisasi dengan alasan apapun tidak dibenarkan. Ini adalah tindakan tak beradab yang harusnya tak mendapat ruang diatas tanah ini. Respon kitapun berbeda. Ketika seorang 21 orang dinyatakan di tembak mati, sosial media kitapun sunyi.

Ini berbanding terbalik dengan ketika seorang Papua ditembak mati. Semua media sosial akan berteriak, semua akan berubah menjadi pejuang HAM menuduh dan berspekulasi. Kita lupa, HAM tidaklah rasis. Ketika kita berteriak kemanusian dalam bingkasan ras, sebenarnya kita telah meminimaliskan konsep manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Tentu ini juga absurd. Jika ingin menjadi pejuang HAM, harus konsisten.

Pejuang HAM harus konsisten, bukan karena korban satu ras dengannya, atau tersangka adalah musuhnya, tetapi melampaui itu, korban adalah manusia. Ia sama seperti kita, mengutip Mike Feathersone, “ manusia: hadir melalui tiupan nafas Tuhan kedalam tanah liat yang kelak menjadi tubuh dan berjiwa.”

Respon yang sepi, apakah sebuah respon yang kontras, karena akhirnya kita telah sadar bahwa semakin nyaring suara pembelaan hak asasi manusia, maka semakin pula kejahatan terhadap manusia dilakukan? Ataukah kita diam, karena korban bukan orang Papua? Saya tak tahu mana yang benar!

Cerita tentang kemanusiaan adalah cerita yang hilang diatas tanah ini. Episod kelam ini seperti sebuah kisah yang terus berlanjut. Saya teringat kata-kata Baba kepada Amir, dalam The Kite Runner karya penulis dan novelis terkenal Afganistan Khaled Hosseini. “Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari istrinya, kau merampok seorang ayah dari anak-anaknya.”

Kita harus ingat bahwa mereka yang kita bunuh memiliki kehidupan, orang-orang yang mencintai mereka, harapan dan cita-cita yang sama dengan kita. Membunuh mereka adalah juga mematikan apa yang mereka hidupi.

Pesan Khaled Hosseini harus menjadi bahan renungan dan pengingat bagi siapa saja yang memiliki kuasa untuk membunuh diatas tanah ini, jika ia tak dapat melihat manusia sebagai manusia. Rentetan kisah kelam ini menjelaskan dua hal atau dua kemungkinan. Pertama, ada sesuatu yang hilang dalam diri kita (sisi humanis kita). Atau yang kedua, ada sesuatu yang belum kita temukan dalam diri kita (juga sisi humanis kita).

Saya dan Eman Bano tak pernah berjumpa secara nyata, namun perjumpaan kami terjadi dalam ruang publik sosial media. Perjumpaan yang maya itu setidaknya telah memberi kesan bahwa dia adalah anak muda yang begitu mencintai Papua.

Sesunguhnya, ia sama dengan seorang teman guru yang datang ke pedalaman Papua untuk mengajari anak-anak Papua. Ia juga sama dengan seorang teman dokter yang datang ke Papua untuk melayani kesehatan di Papua. Mereka sama-sama terpanggil untuk membangun Papua. Mereka mencintai Papua. Untuk mereka yang telah pergi, SELAMAT JALAN. Tuhanmu memberi kebahagian kekal.***