Serunya Berpetualang Bareng Telkomsel Menjelajahi Raja Ampat

Rombongan Wartawan Media Gathering Telkomsel area Pamasuka saat foto bersama di Pantai Friwen / istimewa

RAJA AMPAT, wartaplus.com,- Sebanyak 46 jurnalis dari wilayah Papua Maluku Sulawesi dan Kalimantan (Pamasuka), bersua selama dua hari, 12 -13 Februari dalam rangkaian Kegiatan Media Gathering (MG) Telkomsel menjelajahi Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Kepulauan Raja Ampat terkenal sebagai surga tersembunyi dengan keelokan gugusan pulau-pulau kecilnya yang sangat eksotis dan kaya akan ekosistem lautnya.

“Kita memang sengaja menyelenggarakan di Raja Ampat karena merupakan salah satu area Pamasuka juga dan juga Raja Ampat merupakan bagian dari program pemerintah sebagai tujuan wisata di Indonesia. Semoga berkesan dan bisa memberikan manfaat juga bagi teman-teman wartawan,” kata Ismuh Widodo selaku General Manager Sales Papua-Maluku, saat melepas rombongan MG Telkomsel.

Perjalanan pun dimulai pada Senin (12/2) pagi, dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Sorong menggunakan tiga speedboat (Aurel, Aidil dan Maharani) diawali dengan cuaca yang nampak cerah. Namun perjalanan berubah menjadi menegangkan, setelah di tengah perjalanan menuju Raja Ampat, mendadak turun hujan disertai gelombang laut yang kurang bersahabat.

Batu Berbentuk Pensil di Teluk Kabui, Kepulauan Waigeo, Raja Ampat

Menegangkan Bersama Aurel

Nama yang dimaksud bukanlah anak dari penyanyi Anang Hermansyah, melainkan nama dari Speedboat yang kami tumpangi. Berisikan 18 jurnalis dengan didampingi oleh tiga orang perwakilan Telkomsel, empat orang kru speedboat dan seorang pemandu wisata. Saat menempuh perjalanan menuju Raja Ampat, rombongan Aurel berlayar paling belakang di antara dua speedboat lainnya, Maharani dan Aidil.

Ketegangan mulai muncul saat cuaca berubah gelap. Aurel, Speedboat yang kami tumpangi pun mulai bergoyang diterjang ombak. Raut wajah kami mulai berubah, ada yang nampak tenang dan adapula yang terlihat mulai panik dan was-was. Aurel yang tadinya melaju kencang, perlahan menurunkan kecepatannya dan mulai melambat untuk mengimbangi gelombang laut yang cukup kuat agar kami tetap seimbang.

“Wow, bahaya ini. Mana speedboat lain udah gak kelihatan. Ombaknya kuat sekali, masih jauh kah tempatnya?,” ujar salah satu wartawan yang ikut dalam rombongan kami.

Meski sempat dibuat syok, hingga berbagai macam perasaan telah bercampur aduk dengan suasana perjalanan yang terasa menegangkan itu, kami pun mulai terbiasa dengan guncangan, dan tak ada lagi rasa takut. Apalagi, cuaca hujan dengan ombak yang menggoyang Aurel saat itu cukup membuat kami deg-degan karena nyaris belum kelihatan pulau atau spot yang hendak kami tuju. Sesuai jadwal, tujuan pertama kami ialah ‘Piaynemo’ yang lokasinya memang sangat jauh diantara spot wisata lainnya di Raja Ampat.

Tak lama, Simson Pemandu Wisata kami mencoba menghubungi rombongan lainnya di Speedboat Aidil yang dikoordinir oleh Mbak Rani perwakilan Telkomsel Makassar. Beruntungnya, di wilayah perairan yang sudah terlihat pulau, sinyal seluler sudah tersedia berkat Telkomsel yang memang telah melakukan pengembangan komunikasi di wilayah Kepulauan Raja Ampat dengan membangun 34 BTS. Dari pembicaraan di seluler itulah kami diminta untuk berkumpul di daerah pasir timbul.

Satu Speedboat lainnya, Aidil lebih dulu sampai di pasir timbul, sementara Maharani belum juga kelihatan. Selang beberapa menit, Maharani pun tiba dan setelah di koordinasikan kembali, rombongan pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Piaynemo yang merupakan tujuan awal sebelum menuju resort atau penginapan, karena cuaca dan ombak yang belum juga membaik.

Menatap Keindahan Surga Tersembunyi di Puncak Bukit Piaynemo / Djarwo

Terobati Keindahan Raja Ampat

Setelah melewati cuaca dan gelombang yang kurang bersahabat di setengah perjalanan yang telah kami tempuh, rombongan diajak menyinggahi sebuah pulau yang bernama ‘Sawinggrai’ untuk sekalian beristirahat dan menyantap makan siang. Di Pulau tersebut, rombongan langsung disambut dengan nyanyian dari sekelompok bocah setempat, yang menyenandungkan lagu-lagu khas Papua. Tak hanya itu, dermaga tempat kami beristirahat juga memiliki pemandangan yang sangat bagus untuk rombongan kami berswafoto.

Apalagi, di Pulau tersebut rombongan disuguhkan oleh sebuah pemandangan unik dan tak pernah terlihat di wilayah lainnya di Indonesia. Yah, rombongan mendapat kesempatan langka untuk menyuapi beberapa jenis ikan. Suasana yang memang menggambarkan betapa alam Raja Ampat masih sangat terjaga tanpa dikotori oleh tangan-tangan rakus manusia.

“Keren sekali, kok bisa ikan-ikan ini akrab dengan manusia yah?, benar-benar luar biasa,” kembali kata yang terlontar dari salah satu anggota rombongan.

Setelah beristirahat di Pulau Sawinggrai selama kurang lebih setengah jam, rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke spot wisata ‘Batu Pensil’ Kepulauan Waigeo. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 menit itu, masih tak menyurutkan semangat kami untuk melihat keindahan gugusan pulau-pulau surga Raja Ampat. Meski cuaca masih diguyur hujan dan laut yang belum juga teduh. Kami semakin tak sabar untuk bisa kembali mengabadikan momen perjalanan di Raja Ampat, setelah melihat sejumlah Kapal Pinisi yang mulai menghiasi perjalanan kami. Kapal-kapal tersebut digunakan para wisatawan yang ingin melakukan diving. Beberapa spot wisata juga mulai terlihat di pinggir lautan.

Kami pun tiba di ‘Teluk Kabui’ dengan pemandangan gugusan pulau kecil wilayah Kepulauan Waigeo, Raja Ampat. Pemberhentian kami tepat di spot wisata Batu Pensil (sesuai bentuknya, batu berbentuk meruncing keatas, Red). Tak membutuhkan waktu lama, disitu kami menyempatkan untuk berswafoto bersama para rombongan. Puas berfoto, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ‘Pantai Manyaifun’ yang hanya berjarak 3 menit dari Batu Pensil. Disitu kami memanjat sebuah bukit yang bernama bukit raja untuk mengabadikan momen indah Teluk Kabui.

Berhubung cuaca masih diselimuti oleh awan mendung dan hari yang sudah sore, rombongan pun memutuskan untuk menuju Gurara resort atau penginapan kami yang terletak di pinggir pantai belakang Kota Waisai, Ibukota Raja Ampat, yang menghabiskan waktu 20 menit perjalanan dari Teluk Kabui.

Rombongan yang berada di tiga speedboat (Aurel, Aidil dan Maharani) tak semuanya menginap di Gurara Resort, karena jumlah kamar yang terbatas. Separuh rombongan lainnya menginap di AFU resort yang jaraknya sekitar 5 menit dari Gurara Resort dengan menggunakan speedboat, atau berjarak 15 menit jika menggunakan jalan darat.

Selama berjam-jam diguncang ombak, rombongan memilih untuk beristirahat sehabis menyantap makan malam untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit agar keesokan harinya, Selasa (13/2), bisa menikmati keindahan spot wisata lainnya.

Atraksi Bocah setempat Jumping menggunakan seutas tali

Hari Kedua Paling Berkesan

Pagi pun tiba, cuaca sangat cerah dan laut nampak teduh tanpa gelombang. Tepat pukul 07.00 WIT, rombongan dijemput oleh speedboat untuk mengunjungi Piaynemo dan tiga spot wisata lainnya. Jarak waktu tempuh dari tempat penginapan kami ke spot wisata yang pernah disinggahi oleh Presiden Jokowi itu sekitar kurang lebih satu setengah jam. Meski cuaca sangat cerah, namun di setengah perjalanan ombak masih cukup tinggi akibat hembusan angin barat.

Tak terasa kami pun akhirnya tiba di gugusan pulau Piaynemo yang merupakan ikon Raja Ampat. Terlihat beberapa bule sedang asyik menikmati keindahan Piaynemo. Rombongan berlomba-lomba untuk mencapai puncak bukit Piaynemo yang tersohor dan tempat dimana Jokowi pernah berdiri melihat keindahan surga tersembunyi Raja Ampat.

Setibanya di puncak Piaynemo, satu per satu anggota rombongan mulai menggunakan senjatanya (DLSR, Poket, Go Pro dan Smartphone) dan mulai beraksi mengabadikan setiap momen di setiap sudut pandang keindahan puncak Piaynemo.

“Memang betul-betul indah yah Raja Ampat. Tidak salah kalau ini disebut surga,” ujar salah satu wartawan dalam rombongan kami.

Usai puas menikmati keindahan Piaynemo dan segarnya air kelapa muda, kami harus rela meninggalkan ikon Raja Ampat itu dan melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya.

Kampung Sauwandarek, yang mayoritas dihuni oleh warga Biak Numfor, menjadi spot wisata kami selanjutnya. Setibanya disana, kami langsung disambut dengan berbagai jenis ikan laut yang sedang bermain tepat di bawah dermaga yang kami singgahi. Sama halnya dengan di Kampung Sawinggrai, rombongan dengan bebas menyuapi ikan-ikan cantik tersebut. Bahkan, ada seekor ikan napoleon berukuran sebesar paha orang dewasa yang ikut berebut roti.

Cicipi Aroma Kopi

Di Kampung Sauwandarek cukup berkesan, meski tak begitu lama kami singgahi, namun bisa mencicipi aroma kopi di kampung yang mayoritas penduduknya beragama Kristen Advent itu, sudah cukup melengkapi pengalaman kami yang tak akan pernah terlupakan.

Sehabis menyinggahi Kampung Sauwandarek, kami berlayar menuju Kampung Yenbuba atau dalam bahasa Indonesia di artikan sebagai (Yen) Pantai dan (Buba) Gunung. Di spot ketiga ini, rombongan di beri kesempatan untuk ber-snorkeling dengan alat bantu seperti pelampung dan kacamata selam. Hampir semua anggota rombongan bahkan kru speedboat kami ikut ber-snorkeling dan melihat langsung keindahan terumbu karang dan jenis-jenis ikan.

Kurang lebih hampir sejam kami berada di Kampung Yenbuba, hingga akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi ke spot terakhir di Pantai Friwen. Sebelum memutuskan ke Pantai Friwen, kami sebenarnya ingin menyinggahi satu spot keren bernama Pasir Timbul, sayang berhubung air laut yang telah pasang, kami pun tak beruntung untuk menginjakkan kaki di atas pasir lembut bak susu bubuk itu.

Di Pantai Friwen, ada banyak pengalaman yang di dapatkan disana. Pertama, rombongan diberi kesempatan berenang sepuasnya dan menikmati indahnya pantai yang bersih, terawat dan bebas dari limbah sampah. Kedua, rombongan bisa melihat bocah-bocah setempat yang melakukan atraksi jumping menggunakan seutas tali dari atas pohon dan mendarat di atas air. Ketiga, kami bisa mencicipi pisang goreng hangat nan gurih berteman secangkir kopi, maupun mie gelas siap seduh yang dijajahkan oleh warga setempat sambil menikmati birunya laut dan bersihnya Pantai Friwen.

Sayang, waktu sudah semakin sore, kami harus segera kembali menuju penginapan. Meski masih ingin lebih lama berada disana, namun waktu dan aktifitas kami menjadi pembatas dan kami harus rela beranjak dari gugusan pulau-pulau yang mendapatkan julukan surga tersembunyi itu.

Rasa lelah seharian menyusuri spot-spot keren Raja Ampat, akhirnya terobati dengan suguhan berbagai macam hiburan yang diberikan oleh Telkomsel saat malam perpisahan di Gurara Resort. Menghabiskan malam dengan bercanda ria, bertukar fikiran dan saling mengakrabkan diri hingga kami harus beranjak istirahat dan esok paginya kembali berlayar menuju Kota Sorong, menutup petualangan dua hari kami bareng Telkomsel yang penuh dengan romansa dan tak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. []