ENTERTAINMENTPLUS

Soal Yerusalem Jadi Ibukota Israel, Raja Salman Jewer Trump

Raja Salman

Wartaplus. Hasrat Presiden AS Donald Trump memindahkan kedutaan besar dari Tel Aviv ke Yerusalem tidak diterima umat Islam sedunia. Trump, bahkan sempat curhat lewat telepon kepada Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. Hasilnya sia-sia. Raja Salman justru ‘menjewer’ Trump dengan kata-kata.

Dilansir BBC, Trump dilaporkan telah menelpon sejumlah pemimpin Timur Tengah, seperti Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Raja Yordania Abdullah, Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi serta Raja Arab Saudi Salman.

Termasuk Raja Salman, mereka semua menerima panggilan dari Trump. Hasilnya, semua kompak menolak upaya Trump. Orang nomor satu di AS itu diperingatkan bahwa langkah sepihak AS menyangkut Yerusalem akan menggelincirkan upaya perdamaian serta menimbulkan kekacauan.

Dicurhati Trump, Raja Salman langsung ‘menjewer’ Trump. Tidak hanya menolak, Raja Salman mewarning Trump bahwa tindakannya akan memancing kemarahan umat Islam di seluruh dunia.

Kantor berita resmi Saudi Press Agency melaporkan, Raja Salman juga mengatakan kepada Trump, relokasi kedutaan atau pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel akan menjadi aksi provokasi mencolok terhadap umat Islam di seluruh dunia.

Protes juga disampaikan Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas. Ditelpon Trump, dia memperingatkan konsekuensi berbahaya dari keputusan tersebut karena akan mengganggu proses perdamaian, keamanan dan stabilitas kawasan dan dunia.

Raja Yordania Abdullah mengatakan, keputusan tersebut akan melemahkan upaya untuk melanjutkan proses perdamaian dan memprovokasi umat Islam. Yordania bertindak sebagai penjaga situs Islam di Yerusalem. Kemudian, Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi mendesak Trump untuk tidak memperumit situasi di wilayah ini.

Pada saat yang sama, seorang menteri Israel menyambut baik keputusan Trump itu dan menyatakan tekad bahwa Israel siap menghadapi kekerasan yang mungkin muncul. Namun, menurut sejumlah pejabat AS, Trump diperkirakan akan menandatangani keputusan yang menetapkan bahwa AS masih mempertahankan kedutaan di Tel Aviv selama enam bulan lagi.

“Pemerintahan Trump akan memerlukan waktu untuk menangani masalah logistik seperti belum adanya gedung kedutaan serta perumahan yang aman bagi para anggota staf di Yerusalem,” ujar seorang pejabat AS.

Israel merebut Yerusalem Timur dalam perang Timur Tengah pada 1967 dan kemudian mencaploknya. Langkah Israel itu tidak diakui keabsahannya oleh dunia internasional. Semalam, dijadwalkan Trump menyampaikan pidato ihwal ini. Hingga berita ini dibuat, pidato itu belum terjadi.

Namun, juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan, Trump “cukup solid” dalam pemikirannya mengenai masalah ini. Artinya, kemungkinan besar Trump serius memindahkan kantor duta besarnya ke Yerusalem. Rencana itu, juga janji kampanye Trump.

Masalahnya, nasib kota Yerussalem adalah salah satu masalah paling mencolok antara Israel dan Palestina. Jika Washington mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, AS akan menjadi negara pertama yang melakukannya sejak berdirinya Israel pada tahun 1948. RM

Leave a Reply

*

*

advertisment
advertisment
advertisment