HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » Soal First Travel, OJK Papua: Di Sini Belum Ada Korban
Gedung OJK Papua dan Papua Barat/Djarwo

Soal First Travel, OJK Papua: Di Sini Belum Ada Korban

JAYAPURA,- Perjalanan umroh murah yang hanya dibanderol dengan harga Rp 14,3 juta oleh PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel, ternyata memunculkan masalah yang kini tengah dihentikan oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi.

Pasalnya, biro perjalanan jasa umroh tersebut telah menyedot perhatian dengan belum memberangkatkan calon jemaahnya ke tanah suci. First Travel diduga menggunakan sistem layaknya Multi Level Marketing (MLM), yang mana menurut OJK ada kemungkinan mereka memberangkatkan calon jemaah dengan biaya yang disubsidi dari calon jemaah lainnya, dan skema seperti itu akan berlanjut jika mendapatkan orang baru, ibaratkan gali lubang tutup lubang.

Menanggapi hal tersebut, Kepala OJK Papua dan Papua Barat Misran Pasaribu, saat ditemui wartawan, Selasa (25/7) menuturkan, khusus di Jayapura dan seluruh Papua belum ada yang menjadi korban dari biro First Travel tersebut.

“Sampai dengan saat ini korban first travel belum ada di Papua dan Jayapura, belum ada yang melapor ke kita. Berdasarkan pemantauan kita di Jayapura pun belum ada agen first travel yang merugikan masyarakat,” ujar Misran.

Menurutnya, biro perjalanan tersebut sudah termasuk investasi bodong dan sebagai kategori yang harus diwaspadai. Ia melanjutkan, pihaknya sudah membentuk satgas waspada investasi yang salah satu anggotanya dari kementerian Agama.

“Kenapa kita masukkan Kementerian Agama untuk masuk dalam satgas tersebut ? karena masalah biro perjalanan umroh dan haji ini. Investasi yang menjanjikan umroh tapi malah kabur atau pengelolaan dananya gak jelas, dan itu terkait masalah ibadah,” bebernya.

Untuk itu, dirinya mengimbau agar masyarakat harus lebih cerdas dalam memperhatikan hal itu, dan tidak mudah percaya dengan paket murah yang menggiurkan.

“kebanyakan seperti itu langsung tertarik dan ramai mendaftar dan itu sebenarnya cara mereka untuk mencari keuntungan. Padahal kalau berfikir secara logis untuk ke jakarta saja dari jayapura minimal Rp 5 juta untuk pulang pergi. Nah, kalau sampai Mekkah berapa coba biayanya, belum lagi biaya hotel dan konsumsi,” pungkasnya. [Djarwo]

Check Also

Jelang Pilkada, PPATK: Bank Daerah Rawan Disalahgunakan

Wartaplus. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin mewanti-wanti bangkir untuk lebih ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *