HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » GENERAL » Semoga Imitasi Burung Cenderawasih Mampu Mengubah Tradisi yang Salah
Pemenang Pertama Lomba Imitasi Burung Cenderawasih, Frederika Rumkorem/Djarwo

Semoga Imitasi Burung Cenderawasih Mampu Mengubah Tradisi yang Salah

JAYAPURA,- Sejumlah imitasi burung cenderawasih mulai dipamerkan dalam lomba yang digelar oleh Dewan Kesenian Tanah Papua (DKTP), Senin (14/8), di Gedung DKTP Imbi Kota Jayapura.

Imitasi Burung Cenderawasih tersebut merupakan hasil karya dari para seniman Papua tanpa menggunakan ornamen atau bahan asli hewan, yang memang syarat utamanya seperti itu sebagai kampanye untuk menyelamatkan burung cenderawasih yang semakin hari semakin punah.

Ketua DKTP Nomensen Mambraku mengatakan, dalam perjalanan sejarah dewan kesenian selalu mempertaruhkan harkat martabat orang Papua salah satunya adalah identitas burung cenderawasih, tetapi sayangnya masih banyak orang Papua diatas tanah ini belum menyadari atas apa yang sudah dilakukan oleh DKTP ini.

“DKTP bertekad untuk selalu mempertahankan kesenian orang Papua. DKTP juga yang memprakarsai Kesenian Tari Yospan dan berdirinya Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua,” ujarnya.

Ia menuturkan, Burung Cenderawasih merupakan simbol bagi orang Papua dan burung surga ini harus bebas hidup diatas negerinya. Tentunya dengan kegiatan ini bisa membuat pemerintah segera membuat regulasi untuk menyelamatkan Burung Cenderawasih.

Sementara itu, Ani Rumbiak selaku staf ahli mewakili Gubernur Pemerintah Provinsi Papua memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat dan seniman dalam partisipasinya mengikuti lomba ini. Menurutnya, Kegiatan ini memiliki arti penting untuk melindungi Sumber Daya Alam (SDA) yang hidup di atas Tanah Papua.

“Di beberapa suku tertentu, burung cenderawasih digunakan sebagai simbol upacara adat. Saya berpesan kepada semua peserta bahwa kitalah pelaku atas pelurusan dari kesalahan yang telah terjadi. Saya menilai yang dilakukan ini adalah sejiwa dengan apa yang diniatkan oleh Pemprov Papua,” ujar Ani.

Ia menjelaskan, lomba ini adalah aspek daripada niat tulus para seniman di Tanah Papua untuk melindungi dan menjaga kearifan lokal seni dan budaya.

Ia berharap jika regulasi Gubernur Papua telah diterbitkan, nantinya dapat menjadi payung hukum agar tak ada lagi penyalahgunaan terkait dengan penggunaan souvenir burung cenderawasih di Papua.

Sekadar diketahui, hasil karya peserta atas nama Frederika Rumkorem terpilih sebagai pemenang pertama dengan nilai 3.325, Juara 2 atas nama Daniel Kulisman dengan nilai 3.320 dan Juara 3 Herlina Rumkorem dengan nilai 3.280. [Djarwo]

Check Also

70 Atlet Ikut Lomba Body Contes dan Binaraga Piala Bupati Jayapura Cup I

SENTANI,– Sedikitnya 70 atlet binaraga dari 7 Kabupaten dan 1 kota di Papua mengikuti lomba ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *