HEADLINE : Gara-Gara Status di Facebook Sekelompok Oknum Polisi Gebuk Wartawan Online di Timika - Ketua Umum Persipura: Yunior Buat Sejarah, Papua Gudangnya Sepakbola - Dewan Pers Sambangi Kantor Redaksi Wartaplus.com Lakukan Verifikasi - Bendera Bintang Kejora Berkibar di Banti Tembagapura - Sungguh Bejat, Kelompok Kriminal Bersenjata Perkosa Ibu Rumah Tangga di Tembagapura - Polda Papua Belum Terima Laporan Dugaan Korupsi KPU Intan Jaya ,
Rabu , 22 November 2017
Breaking News
Home » NEWSPLUS » Seminggu Jadi Gubernur, Anies Tak Berjalan Manis
Anies Rasyid Baswedan

Seminggu Jadi Gubernur, Anies Tak Berjalan Manis

Wartaplus.  Sepekan perjalanan Anies Rasyid Baswedan menjadi Gubernur baru di Jakarta tak berjalan manis. Bekas mendikbud ini terus dirundung masalah. Mulai dipolisikan karena pidatonya, hingga kabar rombongannya melawan arus di Puncak, Jawa Barat.

Masih terekam jelas ketika Anies bersama wakilnya, Sandiaga Salahuddin Uno dilantik Presiden Jokowi, di Istana Negara pada Senin (16/10) lalu. Anies-Sandi, sah menjadi Gubernur dan Wagub Jakarta.

Euforia terjadi, ribuan pendukung Anies-Sandi memadati Balai Kota, kantor jagoan mereka. Pesta rakyat pun disajikan. Masyarakat dihibur dengan berbagai hiburan musik, mulai dari tarian tradisional Betawi hingga penampilan dari pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani.

Hadirin yang datang sangat antusias. Sampai-sampai, sebanyak 6.000 porsi makanan lokal ludes dalam hitungan menit. Di hadiri ribuan massa rakyat, tentu membuat Anies-Sandi, sebagai yang ‘diselamatkan’ tampil bersemangat.

Bisa jadi, saking bersemangatnya, pidato perdana Anies sebagai Gubernur Jakarta, berbuntut panjang. Ya, Anies menyelipkan kata ‘pribumi’ dalam pidatonya. Banyak pendapat, Anies tak etis, dan dianggap melanggar UU Nomor 29 Tahun 1999 tentang penghapusan diskriminasi rasial.

Berikut petikan pidato Anies yang kontroversial itu : “….Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Kita semua, pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, “Itik se atellor, ajam se ngeremme.” Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras merebut kemerdekaan, kita semua yang bekerja keras mengusir kolonial, kita yang merasakan manfaat kemerdekaan di Ibu Kota ini.”

Baru sehari menjadi Gubernur, Anies dipolisikan. Jack Boyd Lapian, dari Inisiator Gerakan Pancasila melaporkan Anies ke Bareskrim Polri, Selasa (17/10). Boyd menyoalkan kata pribumi yang dikatakan Anies.

“Terkait dengan bahasa Beliau bicara mengenai pribumi yang dulu kalah sekarang pribumi harus menang. Ini pribumi yang mana? Pribumi Arab, Cina atau pribumi yang betul asli Indonesia,” ujar Boyd. Boyd berlandaskan Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998. Dalam Inpres tersebut, penggunaan istilah “pribumi” dilarang dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintah.

Ormas Banteng Muda Indonesia (BMI) juga melaporkan Anies ke Bareskrim Polri setelah laporannya ditolak Polda Metro Jaya. Dua laporan itu kemudian dijadikan satu laporan polisi. Laporan tersebut diterima dengan laporan polisi nomor LP/1072/X/2017/Bareskrim.

Anies dilaporkan dengan dugaan tindak lidana diskriminatif ras dan etnis sebagaimana diatur dalam Pasal 4 huruf B ke-1 dan 2 dan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis.

Dipolisikan, Anies tidak mau komentar. Namun, terkait pidato tersebut, Anies sempat meluruskan konteks dalam pernyataan tersebut. “Itu pada konteks pada era penjajahan. Karena saya menulisnya juga pada zaman penjajahan dulu karena Jakarta itu kota yang paling merasakan,” kata Anies kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (17/10).

Anies tak bicara apakah pidato itu ditulisnya sendiri atau ada tim yang mempersiapkan. “Pokoknya itu digunakan untuk menjelaskan era kolonial Belanda. Jadi anda baca teks itu bicara era kolonial Belanda, ” jelas Anies lagi.

Masalah yang dihadapi Anies tidak hanya itu. Belakangan, muncul kabar rombongan Gubernur Anies menerobos jalur one way usai meninggalkan acara Tea Walk di Gunung Mas, Bogor, Sabtu (21/10). Bahkan, beredar kabar jika rombongan Anies ditilang polisi karena melanggar aturan.

Ceritanya begini, saat itu jalur Puncak memang padat. Antrean mengular hingga 10 kilometer. Di hari itu juga rombongan Gubernur DKI Jakarta datang ke Gunung Mas Puncak untuk menghadiri acara jalan-jalan di kebun teh atau tea walk Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia) DKI. Kegiatan tahunan ini diikuti sekitar 8.000 orang.

Rombongan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menjadi sorotan karena disebut sebagai penyebab macet. “Ada yang parkir di pinggir jalan, ada yang melambung. Ini jadi titik macet,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Hasby Ristama melalui seperti dilansir Kumparan.com, Sabtu (21/10). RM

Check Also

Alfian Eko Prasetya d Melati Daeva Oktavianti

Hongkong Terbuka, Alfian Dan Melati Sukses Balaskan Dendam

Wartaplus. Pasangan ganda campuran, Alfian Eko Prasetya/Melati Daeva Oktavianti berhasil melewati hadangan pertamanya di babak kualifikasi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *