HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » RI, China & Jepang Jajaki Kurangi Penggunaan Dolar

RI, China & Jepang Jajaki Kurangi Penggunaan Dolar

Wartaplus. Bank Indonesia (BI) tengah berupaya memperluas kerja sama untuk mengurangi penggunaan mata uang dolar AS untuk transaksi perdagangan. Setelah berhasil menjalin kerja sama tersebut dengan Malaysia dan Thailand, BI tengah melakukan penjajakan dengan China dan Jepang.

“Beberapa negara sedang approach ke kita, seperti China dan Jepang. Karena kebijakan ini akan sangat membantu transaksi perdagangan,” ungkap Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, BI,  Bank Negara Malaysia (BNM), dan Bank of Thailand (BOT), resmi meluncurkan kebijakan pembayaran transaksi perdagangan dan investasi langsung menggunakan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS), pada akhir tahun. Dengan adanya kebijakan ini maka transaksi bisa menggunakan rupiah (Indonesia), ringgit (Malaysia), dan baht (Thailand). Kesepakatan ini bertujuan untuk memudahkan pelaku usaha melakukan transaksi dan mengurangi ketergantungan dolar. Untuk melaksanakannya, ketiga bank sentral tersebut  telah menunjuk 5 sampai 6 bank di masing-masing negara untuk merealisasikannya.

Nanang mengatakan, kerja sama dengan China dan Jepang tentu akan disesuaikan dengan kebutuhan. Karena akan ada hal yang berbeda dalam hal pengaturan pertukaran valuta asing.  “Kami sedang cari skema kerja sama LCS ini, kalau kemarin dengan Thailand dan Malaysia kan kita skema atau regulasi valas yang sama. Nah dengan Jepang dan China saat ini masih dicari,” imbuhnya.

Nanang mengatakan, China adalah salah satu negara yang impornya paling besar ke Indonesia. Dengan menggunakan mata uang lokal maka akan lebih baik dan bisa mengurangi demand terhadap valas dan mengembangkan pasar valas domestik.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan selama Januari – November 2017 China menduduki peringkat pertama negara yang mengimpor barang non migas. Nilainya sebesar 31,78 miliar dolar AS atau 26,46 persen. Kemudian posisi kedua diduduki Jepang dengan nilai13,89 miliar dolar AS atau 11,56 persen, lalu Thailand 8,44 miliar dolar AS atau 7,03 persen.

Kemudian untuk ekspor nonmigas per November paling besar juga ke China, yaitu 2,22 miliar dolar AS, kemudian disusul Amerika Serikat 1,51 miliar dolar AS, dan Jepang 1,33 miliardolar AS  dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,07 persen. RM

Check Also

Kasus Mahar Politik. Kalau Nyalla Dapat Tiket, Ceritanya Pasti Tak Begini

Wartaplus. Kasus mahar politik yang terjadi antara La Nyalla Mattalitti dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *