HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » Pertumbuhan Ekonomi Stagnan Pemerintah Siapkan Obat Kuat Baru

Pertumbuhan Ekonomi Stagnan Pemerintah Siapkan Obat Kuat Baru

 

Wartaplus. Pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2017 yang hanya 5,01 persen mendapat perhatian serius. Pemerintah pun menyiapkan paket kebijakan ekonomi baru untuk mendongkrak pertumbuhan. Semoga obat kuatnya bikin manjur.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, stagnannya pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,01 persen disebabkan masih ada regulasi investasi yang masih tumpang tindih antara pusat dan daerah, sehingga menyulitkan para investor. Akibatnya, masyarakat dan pengusaha menunda investasinya.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal II hanya 5,01 persen. Angka ini sama dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2017.

“Saya kira sifat menunggu dari masyarakat, dari pengusaha. Karena kalau kita lihat tabungan likuiditas perbankan cukup baik dan juga keinginan investasi cukup dan mungkin karena melihat kondisi juga dunia, kondisi nasional, maka banyak yang menunda investasi,” kata JK di Jakarta, kemarin.

JK mengakui, tumpang tindih aturan di pusat dan daerah dikeluhkan banyak pengusaha dan investor. Karena itu, para menteri diminta untuk mengurai benang kusut regulasi yang ada untuk mendorong percepatan investasi.

“Kita mendorong untuk mempercepat investasi yang ada, apakah itu investasi pemerintah atau investasi swasta dan juga dari luar,” jelasnya.

Menko Perekonomian Darmin Nasution, mengakui adanya perlambatan daya beli masyarakat bila dibandingkan dengan kondisi dua tahun yang lalu. Pada kuartal II daya beli yang konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,95 persen. “Dibanding dua tahun lalu mungkin sedikit melambat,” ujar Darmin.

Perlambatan ini dipengaruhi oleh melambatnya ekonomi secara global yang kemudian berimbas kepada situasi nasional. Salah satunya harga komoditas yang anjlok, sehingga memukul ekspor Indonesia yang selama ini bergantung pada batu bara dan Crude Palm Oil (CPO).

Banyak masyarakat yang kemudian mengalami penurunan penghasilan akibat penurunan ekspor. Maka dari itu daya beli juga tidak bisa setinggi dulu, sekitar 2009 hingga 2012.

Untuk mengaantisipasi itu, kata Darmin, pemerintah akan mengeluarkan paket ke-16 dalam waktu dekat ini. Paket ini disebut-sebut sebagai paket besar yang akan melibatkan seluruh lapisan pemangku kepentingan. “Ini paket besar. Seluruh kementerian, lembaga, gubernur, bupati, wali kota. Tunggu saja,” ujarnya.

Paket terbaru tersebut, kata dia, akan mengatur percepatan investasi mulai dari perizinan hingga penerapan satu model mulai dari pusat hingga ke daerah. Paket ekonomi ini akan dirampungkan dalam seminggu ke depan dan diluncurkan sebelum 17 Agustus 2017.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,2 persen sepanjang 2017, maka pertumbuhan investasi di semester II perlu tumbuh 5,4 persen.

Namun, ia mengatakan, satu hal yang memberikan harapan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan investasi. Selain itu, pengaruh investasi di semester dua akan semakin besar. Target tersebut bisa tercapai. “Konsumsi dijaga angka stabil, meskipun ada sedikit perlambatan tapi kami melihat masih bisa upaya-upaya untuk mendorong konsumsi kembali ke 5 persen,” tuturnya. RM

Check Also

JK Cerita Sodorin Anies Ke Prabowo

Wartaplus. Di tengah ribut-ribut soal mahar politik, Wapres JK membela Prabowo Subianto. JK menegaskan, sepengetahuannya, Ketum ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *