HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » Perekonomian Papua Tahun 2018 Diprediksi Meningkat
ilustrasi pertambangan / google

Perekonomian Papua Tahun 2018 Diprediksi Meningkat

JAYAPURA,- Perekonomian Papua pada triwulan I tahun 2018 diperkirakan berada pada kisaran 5,3 persen hingga 5,7 persen (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2017.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Joko Supratiko mengatakan, dari sisi lapangan usaha, kinerja tambang pada triwulan I 2018 diperkirakan masih tumbuh positif dan menjadi motor penggerak perekonomian Papua.

Sementara, sejalan dengan kinerja lapangan usaha pertambangan, kinerja ekspor juga diperkirakan berpotensi tumbuh tinggi.

“Secara agregat, pertumbuhan ekonomi Papua pada 2018 berpotensi berada di kisaran 5,0 persen hingga 5,4 persen (yoy) atau lebih tinggi dibanding tahun 2017 yang berkisar 4,0 persen hingga 4,4 persen (yoy),” ujarnya, Sabtu (9/12).

Joko menambahkan, dari sisi lapangan usaha, kenaikan target penjualan hasil tambang pada 2018 menjadi salah satu indikator optimisme pelaku usaha tambang dominan di Papua terhadap kondisi usaha pada 2018.

Sedangkan, tekanan inflasi Papua pada triwulan I 2018, juga diperkirakan berkisar 2,3 persen hingga 2,7 persen (yoy) mengalami kenaikan dibanding triwulan IV 2017.

“Kenaikan UMP sebesar 8,71 persen dan kenaikan cukai rokok sebesar 10 persen, menjadi salah satu faktor pemicu tekanan inflasi pada triwulan I 2018. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar kapal menambah tekanan inflasi pada triwulan I 2018,” jelasnya.

Lanjut dijelaskan, untuk keseluruhan tahun 2018, inflasi Papua diperkirakan mengalami kenaikan dibanding 2017, dari kisaran 2,1 persen hingga 2,5 persen (yoy) menjadi 4,6 persen hingga 5,0 persen (yoy).

“Pelaksanaan pilkada tahun 2018 yang berpotensi mempengaruhi stabilitas sosial ekonomi di Papua menjadi salah satu faktor pemicu tekanan inflasi Papua pada tahun 2018,” pungkasnya.

Layanan Kantor KPPN di Timika / google
Layanan Kantor KPPN di Timika / google

Penerimaan PPh Terbesar dari KPPN Timika

Sementara itu, sampai dengan akhir triwulan III 2017, penerimaan PPh di Papua telah mencapai Rp2,20 triliun. Penerimaan PPh terbesar berasal dari wajib pajak di wilayah kerja KPPN Timika yang mencapai Rp1,22 triliun.

Dijelaskan Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Papua Sjarif Donofan Solaiman, jumlah tersebut disusul wajib pajak di wilayah kerja KPPN Jayapura yang memberikan kontribusi sebesar Rp687,54 miliar.

“Besarnya realisasi penerimaan PPh di wilayah kerja KPPN Timika antara lain berasal dari PPh karyawan dan PT Freeport yang bergerak dalam bidang penggalian tambang di Kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (9/12).

Lanjut dijelaskannya, selain PPh, PPN dan bea masuk/keluar juga turut memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap penerimaan perpajakan.

“Sampai dengan triwulan III 2017, penerimaan PPN telah mencapai Rp973,55 miliar. Adapun penerimaan bea masuk dan keluar masing-masing sebesar Rp159,61 miliar dan Rp913,74 miliar,” pungkasnya. [Djarwo]

Check Also

Pendukung “Tenang“ Doakan Pilkada Puncak Berlangsung Aman dan Damai

SENTANI,- Ratusan pendukung dari pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Puncak, Repinus Talenggen dan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *