HEADLINE : Gara-Gara Status di Facebook Sekelompok Oknum Polisi Gebuk Wartawan Online di Timika - Ketua Umum Persipura: Yunior Buat Sejarah, Papua Gudangnya Sepakbola - Dewan Pers Sambangi Kantor Redaksi Wartaplus.com Lakukan Verifikasi - Bendera Bintang Kejora Berkibar di Banti Tembagapura - Sungguh Bejat, Kelompok Kriminal Bersenjata Perkosa Ibu Rumah Tangga di Tembagapura - Polda Papua Belum Terima Laporan Dugaan Korupsi KPU Intan Jaya ,
Rabu , 22 November 2017
Breaking News
Home » NEWSPLUS » Pencipta Tombol Like Berencana Hapus Aplikasi Facebook, Mengapa?
0945422Like-Facebook780x390

Pencipta Tombol Like Berencana Hapus Aplikasi Facebook, Mengapa?

WARTAPLUS – Pengguna jejaring sosial Facebook pasti akrab dengan tombol “ Like” untuk menyatakan kesukaan terhadap posting tertentu. Tombol ikonik tersebut diciptakan oleh seorang engineer Facebook bernama Justin Rosenstein pada 2007.

Ironisnya, belakangan Justin Rosenstein justru memutuskan untuk membatasi pemakaian Facebook dan media sosial lain seperti Snapchat, juga forum online Reddit. Dia menghapus aplikasi Facebook dan bahkan tak mau memasang aplikasi apapun di iPhone yang baru dibelinya.

Ada apa gerangan? Rupanya Justin Rosenstein takut ketagihan. Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, dia menyebut media sosial bisa membikin kecanduaan layaknya heroin.

Tombol “Like” ciptaannya sendiri itu disebut sebagai “kesenangan palsu” yang mendasari bangkitnya “attention economy”, yakni dunia internet yang dibentuk di sekitar iklan.

“Sering sekali manusia membuat sesuatu dengan niat baik, tapi tanpa sengaja malah menimbulkan konsekuensi negatif,” keluh Justin Rosenstein seakan menyesali penciptaan tombol Like, sebagaimana, Senin (9/10/2017).

Malah menggiring opini

Justin Rosenstein pada awalnya membuat tombol Like untuk “menyebarkan sesuatu yang positif di Facebook”. Tombol ini mudah untuk dipakai, cukup dengan sekali klik untuk menyatakan kesukaan terhadap posting.

Reaksi pengguna Facebook ternyata luar biasa. Angka user engagement meroket karena para pengguna suka dengan afirmasi sosial yang datang dari mendapatkan atau memberikan Like.

Hal ini kemudian memberikan data kepada Facebook tentang apa saja yang disukai oleh masing-masing pengguna. Data tersebut kemudian dijual ke pengiklan untuk menarget pengguna terkait.

Efek media sosial yang bersifat attention based ini bahkan bisa melebar ke politik dan menyebabkan perubahan besar dengan menggiring opini, seperti keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dan kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden AS yang disinyalir ikut diwujudkan oleh Facebook.

Di level individu, Justin Rosenstein khawatir tentang efek ketagihan yang ditimbulkan media sosial terhadap pengguna. Sebuah studimenunjukkan bahwa rata-rata pengguna smartphone membuka perangkatnya (dengan sapuan atau sentuhan di layar) sebanyak lebih dari 2.600 kali per hari.

Studi lain mengatakan smartphone berpotensi mengurangi kapasitas kognitif dan kemampuan fokus. Bahkan ketika sedang dimatikan sekalipun, ponsel tetap merusak perhatian apabila ada di sekitar pengguna.

“Perhatian semua orang teralihkan,” ujar Justin Rosenstein . “Sepanjang waktu”.

[KOMPAS]

Check Also

Alfian Eko Prasetya d Melati Daeva Oktavianti

Hongkong Terbuka, Alfian Dan Melati Sukses Balaskan Dendam

Wartaplus. Pasangan ganda campuran, Alfian Eko Prasetya/Melati Daeva Oktavianti berhasil melewati hadangan pertamanya di babak kualifikasi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *