HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » HAI PAPUA » Pastor Andreas Trismadi Pr Seorang Projo Dengan Spritualitas Fransiskan

Pastor Andreas Trismadi Pr Seorang Projo Dengan Spritualitas Fransiskan

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

Tentu kita memiliki rasa cinta kepadanya. Ia pun memiliki rasa cinta yang sama kepada kita. Tetapi diatas segalanya, Tuhan lebih mencintai dia. Selamat jalan Pastor, sampai berjumpa dialam kebahagiaan! “Hodei Mihi Cras Tibi-Hari Ini Engkau, Besok Kami”.

Rombongan itu melangkah, bergerak dari sayap kanan gereja, tepat dibelakang sekelompok orang yang sedang bernyanyi. Mereka melangkahkan kakinya, dibawah kolong langit yang mendung, diatas ibu bumi yang sedih, diantara wajah-wajah yang murung dan pilu disiang itu. Dalam keheningan dan luka rasa nan dalam, nyanyian merdu paduan suara menuntun kaki-kaki setiap yang ada pada barisan rombongan, menuju Altar Suci melalui pintu depan Gereja.

Dibagian depan rombongan, seorang bocah, berwajah murung, dengan raut kesedihan yang tampak tegas pada kedua matanya. Ia melangkah perlahan, hati-hati sambil memegang erat penuh tenaga, kayu yang diujungnya dipasang sebuah salib kecil.

Beberapa orang seumurannya, melangkah mengikutinya sambil memegang lilin yang sedang menyala, berjalan tanpa alas kaki, dengan pakaian serba putih. Pemandangan mereka kontras dengan warna pakaian pada setiap mata yang berdiri dibangku gereja, yang terlihat lebih gelap, yang turut menghantarkan kaki telanjang mereka menuju ke Altar Suci dengan sebuah nyanyian dalam bahasa latin.

Diarah barat daya Gereja, suara merdu paduan suara legendaris Ave Maria terdengar begitu merdu, membahana menggetarkan pilar-pilar kokoh, menembusi batas, terdengar hingga kepelosok Gereja. “Requem aerternam,  Donaeis Domine, et lux perpetualuceateis. Tedecet hymnus Deus in Sion et tibi reddetur votum in Jerusalem, exaudiorationem meam ad te omnis caro veniet”.

Itulah lirik dengan nada dasar F, dari judul lagu, Requiem (Introitus) yang dinyanyikan berulang-ulang, oleh paduan suara Ave Maria sebagai lagu pembuka Misa. Setiap lirik, menghantar dan menuntun para rombongan menuju Altar Suci.

Diantara rombongan, pada arak-arakan  itu, terlihat beberapa Fransiscan melangkah perlahan, dengan wibawa Santo Fransiskus dari Asisi dengan jubah berwarna coklat. Dibelakang, berdiri rapi, beberapa Imam Projo muda dengan menggunakan jubah berwarna putih. Dan pada bagian akhir, berdiri paling belakang, Yang Mulia, Bapa Uskup. Ia Berjalan mengikuti sang bocah penuntun. Dengan topi segi lima yang khas sebagai penanda bahwa dialah Yang Mulia. Ia melangkah perlahan dengan irama penuh kesedihan. Hati yang luka, air mata, seperti mata air yang terus mengalir menuju muara kesedihan, nampak  pada wajah-wajah yang diselimuti oleh kabut nestapa siang itu.

Karl Karoluz Wagab Meak
Karl Karoluz Wagab Meak

Penghormatan terakhir harus diberikan melalui upacara sakral, sebagai sebuah tanda perpisahan, yang sesungguhnya dan sejujurnya tak memisahkan. Seperti dalam sambutan, Aloysius Giay, seorang tokoh awam Katolik, diawal upacara Misa untuk mengenangnya, dengan mengutip sebuah frasa latin, “Hodei mihi cras tibi – Hari ini engkau, besok kami”.

Lalu, Misa Requiem itu dipimpin oleh yang Mulia untuk sebagai ungkapan syukur atas berpisah atau perginyanya, seorang yang bersahaja, Pastor Referendus Dominus Andreas Trismati Pr kepada keluarga asalnya (persekutuan dengan Allah).

Sesaat sebelum Ekaristi, dan saat paduan suara Ave Maria menyanyikan lagu, “Pertolongan Tuhan”, aku teringat kembali apa yang dikatakan seorang Ibu diawal sebelum Misa, “bahkan alam Papua pun bersedih, atas perginya Pastor Trimadi”.

Pagi itu, sekitar jam sepuluh pagi, dua jam sebelum Misa Requiem, hujan turun dan langit mendung sepanjang hari. Alam telah merespon sebab ia memiliki jiwa, ia melihat setiap karya orang-orang diatas tanahnya. Ia melihat semangat dan kebaikan setiap jiwa, dan ketika orang yang dia (alam) cintai pergi, ia pun akan bersedih.

Neles Tebai, seorang pastor, berdiri dihadapan semua orang yang berduka dan memberikan testimoninya terhadap Pastor Trismadi. Ia mengatakan. “Pastor Trismadi adalah sosok Gembala Yang Baik. Lanjutnya, “Dia mengakhiri karya dan hidupnya di tempat ini, di Gereja Gembala Baik, sebab dia sesungguhnya adalah Gembala Yang Baik”.

Gambaran tentang Gembala yang baik sepenuhnya tidak berlebihan, sebab selama ini, ia melalukan hal itu. Dia bukan hanya menuntun dan mendoakan dombanya, melainkan juga rela berkorban demi mereka.

Sebagai gembala, dia telah merubah wajah Gereja sebagai padang rumput yang hijau, ditengah padang gurun gersang. Gereja diubahnya seperti sebuah oase, yang memberikan keteduhan, kenyamanan dan rasa ingin tinggal. Ia mendorong Gereja untuk berani keluar, menuju dan melampaui batas-batas.

Spritualitas Fransiskus Asisi

Seperti Paus Fransiskus, seorang Ignasian, seorang Jesuit yang memilih Fransiskus sebagai teladan, itu jugalah yang terlihat dari seorang Trimadi. Seorang projo, seorang Imam Diosesan yang benar-benar meneladani semangat dan spritualitas Fransiskus Asisi. Wajah gereja diubahnya, menjadi lebih sederhana, ditengah hiruk-pikuk semangat duniawi. Gereja dibuatnya menjadi Gereja yang tidak mengurung diri, gereja yang tidak menunggu, dan gereja yang tidak pasrah.

Ketika melihat karya dan apa yang telah dia lakukan, kita hanya bisa merenungkan kembali, sebuah perjumpaan dan bisikan dari Kristus kepada Fransiskus di Asisi, “Fransiskus, perbaikilah rumahku yang sedang dan hendak roboh”.

Bisikan Kristus kepada Fransiskus adalah bisikan Kristus kepada Trismadi. Seperti Fransiskus, bisikan itu adalah panggilan untuk membangun kembali wajah Gereja yang mungkin “hendak roboh” menuju Gereja lebih sederhana.

Pastor Trismadi adalah seorang yang begitu mengangumkan. Kita begitu sangat mudah mencintainya oleh karena kesederhanaannya, karakterternya, sikap kebapaannya bahkan kemurnian dirinya.

Namun diatas segala rasa cinta kita kepadanya, dan diatas segala rasa cintanya kepada kita. Tuhan lebih mencintai dia. Selamat jalan Pastor, sampai jumpa kembali dialam kebahagiaan!

“Hodei mihi cras tibi – Hari ini engkau, besok kami”.

Check Also

Telkomsel Gelar Kerjasama Pengembangan Layanan Seluler dengan Dua Kabupaten di Papua

JAYAPURA,- Dalam rangka mendukung nawacita Presiden Republik Indonesia, dimana salah satunya adalah pembangunan infrastruktur di ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *