HAI PAPUA

Organisasi Pers Minta Oknum Polisi Yang Mengintimidasi Jurnalis di Timika Segera Diproses

  Koordinator Advokasi AJI Jayapura Fabio Costa, Ketua IJN Papua Papua Barat Roberth Vanwi Subiyat dan Kabid Advokasi IJTI Papua Alberth Melmambessy/Djarwo 
  Koordinator Advokasi AJI Jayapura Fabio Costa, Ketua IJN Papua Papua Barat Roberth Vanwi Subiyat dan Kabid Advokasi IJTI Papua Alberth Melmambessy/Djarwo 

JAYAPURA,- Menyikapi masalah yang terjadi di Timika, Papua, Rabu (06/12) dini hari, terkait ulah oknum seorang anggota Polres Mimika yang melakukan pengrusakan tempat nongkrong wartawan dan pengintimidasian, insan pers Papua menggelar pernyataan pers.

Ketua Indonesia Journalist Network (IJN) Papua dan Papua Barat Roberth Vanwi Subiyat mengatakan, pihaknya meminta agar oknum yang membuat masalah pagi tadi harus segera di proses sesuai dengan kode etik Kepolisian yang berlaku, karena sangat mengganggu kemitraan para wartawan dan aparat Polisi, dan itu penting dilakukan supaya ada efek jera.

“Kalaupun kami juga ada salah, yah silahkan memproses kami sesuai dengan kode etik bila itu memang prosedurnya jelas dan soal karya jurnalistik yang salah, bila pun tidak kami meminta dengan baik untuk tidak terjadi,” ujarnya.

Roberth juga meminta kepada pihak-pihak terkait baik Kepolisian tertinggi di Republik Indonesia agar segera menyelesaikan kasus ini, agar kemitraan yang di dengung-dengungkan itu terjalin dengan baik.

Di kesempatan yang sama, Koordinator Advokasi Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jayapura Fabio Costa mengungkaplan, pihaknya pagi tadi sudah mengkonfirmasi ke Kapolda Papua dan Kapolda sendiri mengakui bahwa memang ada kejadian yang terjadi dini hari tadi yang dilakukan oleh salah satu oknum anggota Polres Mimika.

Selain itu, kata dia, Kapolda menjamin semua keamanan wartawan dan di Timika tidak akan ada aksi yang terulang lagi seperti ini, dan itu hanya ulah seorang oknum institusi.

“Kita mengucapkan terima kasih kepada Kapolda atas jaminannya, dan kami harap oknum yang sempat mengintimidasi teman-teman wartawan bisa diberikan sanksi baik kode etik atau sanksi apapun. Dan terpenting bagi kami adalah keselamatan para wartawan agar bisa bekerja dengan aman, tidak diganggu dan tidak merasa terintimidasi,” ujarnya.

Sementara itu, Alberth Melmambessy selaku Kabid Advokasi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Papua juga mengatakan yang sama, dimana pihaknya juga berharap supaya hubungan yang telah terjalin antara pihak wartawan dan Kepolisian di Papua dapat terus terjalin dengan baik.

“Terkait dengan adanya insiden tersebut kami harap ini bisa di selesaikan agar kedepannya hal-hal seperti ini tidak lagi terjadi. Sehingga dalam menjalankan tugas, pers bisa bebas tanpa adanya tekanan-tekanan dan intimidasi di lapangan,”harapnya. [Djarwo]

Leave a Reply

*

*

advertisment
advertisment
advertisment