HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » Nolak Divestasi 51 Persen, Freeport Ngeyel, Tendang Saja

Nolak Divestasi 51 Persen, Freeport Ngeyel, Tendang Saja

 

Wartaplus. Perundingan untuk menyelesaikan sengketa Freeport dengan pemerintah berjalan alot luar biasa. Sampai kemarin, kedua belah pihak belum juga menemukan kata sepakat. Terutama soal divestasi saham. Pemerintah keukeuh ingin Freeport Indonesia melepas 51 persen sahamnya. Sementara perusahaan asal Amerika ini masih ngeyel, hanya mau melepas 30 persen saham. Pengamat bilang jika perundingan buntu, tendang saja Freeport.

Perundingan antara pemerintah dan Freeport sebenarnya sudah dimulai sejak Februari lalu. Setidaknya, ada empat poin yang dibahas yaitu perpanjangan operasi, stabilitas investasi, divestasi 51 persen saham dan pembangunan smelter di dalam negeri. Dari empat masalah itu, hanya soal divestasi saham yang belum menemukan akta sepakat. Padahal para menteri sudah melobi Bos Freeport agar melepas saham tersebut. Bulan lalu misalnya, Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan sudah menemui Bos Freeport Richard C Adkerson di Amerika untuk membahas soal divestasi itu.

Akhir Juli lalu, giliran Menteri ESDM Ignasius Jonan yang terbang ke Amerika untuk menemui Adkerson dalam acara breakfast meeting. Hasil pertemuan tersebut telah membuat saham Freeport-Mc Moran sempat melonjak pada perdagangan Rabu pagi 25 Juli 2017.

Meski sudah dilobi para petinggi, perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu masih saja emoh melepas 51 persen sahamnya ke Indonesia. Hal ini membuat Sekjen Kementerian ESDM Teguh Pamudji yang juga sebagai Ketua Tim Perundingan mangkel. Dia menegaskan, pemerintah tak akan mengurangi besaran prasyarat negosiasi tersebut apa pun alasannya. Intinya Freeport harus divestasi 51 persen sahamnya. Kata dia, divestasi saham itu adalah amanat PP Nomor 1/2007. Teguh juga menolak keinginan Freeport yang berencana mengajukan sebagian divestasi saham melalui penawaran bursa saham atau IPO.“Kita sudah punya mekanisme sendiri,” ujarnya.

Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan, pihaknya sudah setuju menjual 30 persen sahamnya kepada pemerintah, sesuai dengan nota kesepahaman yang sudah ditandatangani kedua belah pihak 25 Juli 2014. Menurutnya, Freeport ingin divestasi dilakukan bertahap. Dia berjanji pihaknya akan segera melakukan divestasi setelah mendapat kepastian dari pemerintah. “Divestasi bertahap akan dilakukan setelah mendapatkan kepastian perpanjangan izin usaha jangka panjang,” kata Riza, kemarin.

Riza kemudian mempertimbangkan penawaran saham perdana (IPO) sebagai alternatif proses divestasi. Freeport belum menentukan jumlah lembar saham yang akan dijual ke publik. “Kami dukung opsi itu sebagai bagian divestasi,” kata dia. Yang terpenting bagi Freeport saat ini yaitu mengantongi izin perpanjangan operasi hingga 2041. Dengan izin tersebut mereka bisa melanjutkan investasi tambang bawah tanah sebesar 15 miliar dolar AS, dan pembangunan smelter 2,3 miliar dolar AS. Pembangunan smelter akan dilakukan setelah perusahaan mendapatkan perpanjangan izin tersebut. “Tanpa itu kami tak bisa mendanai,” ujarnya. RM

Check Also

JK Cerita Sodorin Anies Ke Prabowo

Wartaplus. Di tengah ribut-ribut soal mahar politik, Wapres JK membela Prabowo Subianto. JK menegaskan, sepengetahuannya, Ketum ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *