HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » KPK Korek Proyek Galangan Kapal Selam Waskita Karya

KPK Korek Proyek Galangan Kapal Selam Waskita Karya

Wartaplus. Dua direksi dan seorang kepala divisi PT PAL Indonesia ditetapkan sebagai tersangka penerimaan gratifikasi. KPK pun menelusuri asal duit gratifikasi itu.

Kemarin, penyidik KPK memanggil bekas General Manager PT Waskita Karya Jawa Timur, Adi Sutrisno. “Adi Sutrisno dipanggil sebagai saksi atas tersangka AC (Arief Cahyana),” kata juru bicara KPK Febri Diansyah.
Febri enggan menjelaskan hubungan Adi Sutrisno dengan kasus gratifikasi Arief Cahyana. Apa terkait proyek pembangunan galangan kapal selam? “Biar penyidik menghimpun semua terbukti terkait ini lebih dulu,” elaknya.
Untuk diketahui, PT PAL Indonesia menunjuk PT Waskita Karya sebagai kontraktor pembangunan fasilitas produksi kapal selam di Surabaya. Ground breaking proyek itu dilakukan 6 April 2015 lalu.
Kegiatan itu dimuat di situs PT PAL maupun PT Waskita Karya. Fasilitas yang dibangun berukuran 170 meter x 110 meter. Terdiri dari bengkel utama dan bengkel pendukung dengan kapasitas memproduksi kapal selam hingga 2.000 ton.
Selain untuk memproduksi kapal selam, bengkel ini juga sebagai tempat pemeliharaan dan perbaikan. Proyek yang dikerjakan Waskita Karya itu menghabiskan biaya Rp 285 miliar.
Pembangunan fasilitas produksi kapal selam ini menindaklanjuti kerjasama dengan perusahaan Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Maritime Engineering (DSME) dalam pengadaan tiga kapal selam untuk TNI AL.
Kerja sama dengan pola ToT atau Transfer of Technology itu dimulai pada 2013. Dua kapal selam akan dibangun di galangan DSME di Korea Selatan. Satu lagi diproduksi di PT PAL Indonesia.
Dua kapal selam sudah selesai diproduksi dan tengah diuji coba. Rencananya tahun ini tiba di Tanah Air. Tahun ini pula mulai dibangun kapal selam di fasilitas PT PAL.
Direktur Utama PT PAL, Firmansyah Arifin pernah mengungkapkan rencana ini pada 2016 lalu. “Kami bangun dulu infrastrukturnya, sebab kami belum punya dan hanya punya landasannya kapal selam. Dengan adanya infrastruktur, ke depan kami bisa lebih banyak produksi kapal selam,” katanya.
Ia mengatakan kebutuhan Indonesia terhadap kapal selam sangat tinggi karena mayoritas wilayah Nusantara adalah laut, sehingga sistem pertahanan berupa kapal selam sangat dibutuhkan.
“Kami melihat kebutuhan kapal selam Indonesia sebenarnya sebanyak 12 kapal selam. Sementara saat ini kita hanya punya sedikit. Itu pun produksi lama,” katanya.
“Sebanyak dua unit kapal selam dalam proses dibuat di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Lalu, satu unit dibangun di PT PAL Indonesia,” kata Firmansyah.
Untuk bisa membangun kapal selam ketiga, PT PAL telah mengirimkan 206 teknisinya untuk mengikuti program transfer pengetahuan. “Dari 206 engineer, 120 orang sudah balik,” tutur Firmansyah.
Korea Selatan digandeng PT PAL untuk membangun kapal selam, karena negeri ginseng itu bersedia melakukan transfer teknologi. Hal ini menjadi pertimbangan penting agar anak bangsa bisa mengembangkan industri galangan kapal di dalam negeri.
Firmansyah tak bisa menyelesaikan proyek itu lantaran ditangkap KPK. Firmansyah diduga menerima suap dalam proyek pengadaan kapal perang tipe Strategic Sealift Vessel (SSV) untuk Filipina.
Ia pun ditetapkan sebagai tersangka bersama Direktur Keuangan PT PAL Saiful Anwar, dan Kepala Divisi Perbendaharaan PT PAL Arief Cahyana.
KPK juga menetapkan Agus Nugroho, Direktur Umum PT Pirusa Sejati sebagai tersangka karena menjadi perantara pemberian suap kepada pejabat PT PAL. Duit suap diduga berasal dari Ashanti Sales Incorporation, agensi penjualan kapal perang kepada Pemerintah Filipina.
Belakangan, KPK kembali menetapkan tiga pejabat PT PAL sebagai tersangka penerimaan gratifikasi. Firmansyah, Saiful dan Arief dijerat dengan Pasal 12 B Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. KPK menyita duit Rp230 juta diduga gratifikasi. RM

Check Also

Farhat Abbas Laporkan Nikita Mirzani ke Polisi

WARTAPLUS – Farhat Abbas kembali mendatangi Polda Metro Jaya, Selasa, 16 Januari 2018. Kedatangan Farhat ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *