HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » NEWSPLUS » Koalisi Pendukung Pemerintah Terancam Cerai Di Tengah Jalan

Koalisi Pendukung Pemerintah Terancam Cerai Di Tengah Jalan

 

Wartaplus. Koalisi partai pendukung pemerintah selalu dihiasi dengan gonjang ganjing dan ketidakkompakan. Terbaru, koalisi pemerintah retak gara-gara pembahasan Pansus Hak Angkat KPK dan Undang-Undang Pemilu. Akibatnya, koalisi terancam cerai di tengah jalan.

Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies (IPS) Tri Andika memprediksi usia koalisi partai pendukung pemerintah tidak akan panjang. Pasalnya, partai politik akan mengamankan diri masing-masing demi menggapai kepentingan yang diharapkan.

“Saya memprediksi memasuki tahun 2018 menuju 2019 koalisi pemerintah akan retak dan pecah,” duga Tri Andika kepada wartawan di gedung DPR, Jakarta.

Perpecahan akan terjadi ketika partai politik ingin mengusung kadernya sebagai calon presiden dan calon wakil presiden di pemilu serentak 2019. Kata dia, tidak ada jaminan partai yang saat ini mengusung Jokowi akan solid dan tidak mengubah pilihannya hingga pencalonan nanti.

Apalagi partai politik yang berada dalam barisan pendukung pemerintah mempunyai track record loncat pagar. Partai Golkar misalnya, dari awal sudah mengusung Aburizal Bakrie sebagai capres.

Lebih tepatnya Jumat, 29 Juni 2012, Rapat Pimpinan Nasional III Partai Golongan Karya resmi dibuka. Berlangsung selama tiga hari di Bogor, Jawa Barat, rapat itu antara lain memutuskan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menjadi bakal calon presiden Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2014. Tetapi, Golkar justru tak mengusung capres.

“Ditambah jika Setnov benar-benar masuk bui, arah koalisi terhadap Jokowi bisa berubah 180 derajat,” katanya.

Lalu, PKB yang dulu getol mengusung Rhoma Irama sebagai Capres ditinggalkan begitu saja, bahkan cenderung dicampakan oleh partai Muhaimin Iskandar.

Begitu pun dengan Partai Hanura yang akan mengusung Wiranto dan Hary Tanoe, sebagai capres dan cawapres tetapi itu hanya isapan jempol belaka.

Jadi, dengan track record partai yang ada dalam koalisi pendukung pemerintah tidak ada jaminan bakal solid hingga akhir. “Mereka akan mencari berbagai hal yang menguntungkan diri mereka sendiri dan tidak perduli dengan yang namanya koalisi,” tandasnya.

Perpecahan di koalisi pemerintah sudah terlihat secara terang benderang. PAN yang mendukung Jokowi selalu bertolak belakang dengan keinginan pemerintah.

Akibat sikap PAN, PDIP menyindir PAN untuk keluar dari koalisi. Partai Nasdem juga ikut-ikutan menyindir PAN atas sikapnya yang bersebrangan dengan kebijakan pemerintah terkait Perppu Ormas, Undang-undang pemilu dan lainnya.

PKB yang dianggap anak manis dalam koalisi masih tarik ulur mengusung Jokowi. Wasekjen DPP PKB Maman Imanul Haq mengakui partainya masih belum menentukan arah dukungannya dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang. PKB beralasan masih harus melakukan komunikasi politik dengan partai lain.

“(Belum deklarasi) Iya, karena kita juga harus cari masukan dan dukungan dari daerah,” Wasekjen PKB Maman Imanulhaq, di D’Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (30/7).

Menurut anggota komisi VIII tersebut, alasan lain karena masih terlalu cepat untuk melakukan deklarasi dukungan untuk calon Presiden. Terlebih pemerintahan saat ini masih ada dua tahun masa kepemimpinannya. “Ini waktu masih dua tahun, saya rasa kita hormati teman-teman dalam melakukan itu. PKB tentu melakukan kalkulasi politik secara sistematis,” ujarnya. RM

Check Also

OSO Kantongi SK Menkumham, Wiranto: Tidak Ada Munaslub

Wartaplus. Konflik internal yang melanda Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) bakal reda. Pasalnya, tidak ada agenda ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *