HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Hukum » Kasus Suap Bakamla, Politisi PDIP Kembali Mangkir Diperiksa KPK

Kasus Suap Bakamla, Politisi PDIP Kembali Mangkir Diperiksa KPK

 

Wartaplus. Politisi PDIP Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi kembali dipanggil untuk diperiksa dalam kasus suap pengadaan satellite monitoring (satmon) di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Lagi-lagi, staf khusus Kepala Bakamla Laksamana Madya Arie Soedewo itu mangkir.

Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah menyatakan, penyidik berkeyakinan Ali masih berada di Indonesia. “AF adalah saksi yang pernah diperiksa KPK, namun tidak bisa hadir di persidangan. Kami masih lakukan pencarian,” katanya.

KPK bekerja sama dengan Ditjen Imigrasi untuk memantau keberadaan Ali. “Berdasarkan catatan Imigrasi, belum melintas ke luar negeri,” ucapnya.

Atas informasi dan data-data yang dikantongi penyidik, KPK pun menerbitkan permohonan perpanjangan cegah kepada Ali. Perpanjangan ini untuk menghindari Ali lari ke luar negeri.

Febri mengatakan, Ali diduga punya informasi penting mengenai kasus suap proyek satmon tahun 2016 itu “Kita berusaha optimal untuk menghadirkan saksi tersebut,” katanya.

Kehadiran dan keterangan Ali dianggap penting karena dia diduga terlibat pengaturan PT Melati Technofo Indonesia (MTI) agar bisa mendapatkan proyek satmon.

Dalam dakwaan para terdakwa kasus suap ini, Ali disebutkan sebagai orang yang mengajak Fahmi Darmawansyah, bos PT MTI untuk ikut proyek di Bakamla. Namun dengan syarat Fahmi harus membayar fee 15 persen dari nilai proyek.

Memanfaatkan posisinya sebagai anggota staf khusus Kepala Bakamla Arie Soedewo di bidang anggaran dan perencanaan, Ali mengaku bisa mengatur siapa pemenang lelang proyek satmon.

Untuk itu, dia meminta biaya jasa sebesar Rp 54 miliar buat proyek yang waktu itu diberi pagu anggaran Rp 402 miliar. Belakangan, ketika pagu proyek diturunkan menjadi Rp 222 miliar, Ali Fahmi mengembalikan uang jasanya Rp 9 miliar.

Fahmi lalu memerintahkan dua anak buahnya M Adami Okta dan Stefanus Hardy untuk menyerahkan uang kepada Ali guna mengurus anggaran proyek satmon. Fahmi mengaku sudah menyerahkan Rp54 miliar kepada Ali. RM

Check Also

Polisi Bekuk Dua Pengedar Sabu di Timika

JAYAPURA,–Dua pengedar narkotika jenis sabu berinisial IS (22) dan N alias Acok (22) berhasil dibekuk ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *