HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » ENTERTAINMENTPLUS » Islah Duo Korea Masih Jauh Panggang Dari Api

Islah Duo Korea Masih Jauh Panggang Dari Api

Wartaplus. Perdamaian Korut dengan Korsel bisa dibilang masih jauh panggang dari api. Kubu Korut masih menjaga tensi perang dengan saudaranya itu dengan tidak menanggapi permintaan Korsel melakukan reuni Korea.

Seperti diketahui, diplomasi Korut dengan Korsel kembali dibuka menjelang Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korsel. Secara mengejutkan, Korut berkehendak mengirimkan 500 warganya untuk berpartisipasi, ikut kompetisi.

Menjelang lomba, duo Korea melakukan perundingan. Pertemuan dua negara yang terbelah setelah Perang Korea tahun 1953 berlangsung aman. Para delegasi bertemu di desa gencatan senjata di Paju, Panmunjom, 9 Januari 2018.

Seperti dikutip dari Chosun Ilbo dan Korea Times, ada empat poin yang dihasilkan dari pertemuan tersebut. Kebanyakan, soal teknis acara olahraga saja. Pertama, Korut memastikan ikut serta dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang setelah delapan tahun tidak dapat mengikutinya.

Rencananya, Korut akan mengirimkan atlet-atletnya, cheerleaders dan peserta atraksi atau demonstrasi Taekwondo dan sejumlah pengamat. Ketua delegasi Korsel, Menteri Unifikasi Cho Myoung-gyon mempersilahkan Korut mengirimkan atlet-atletnya sebanyak mungkin.

Kedua, Cho Myoung-gyon menyatakan akan ada pawai bersama dalam acara pembukaan maupun penutupan olimpiade. Ketiga, Korut maupun Korsel sepakat menunda pembicaraan masalah militer untuk menghapus ketegangan di Semenanjung Korea. Keduanya juga sepakat masalah lintas batas harus dibahas melalui negosiasi dan dialog.

Nah, di poin empat justru terlihat kubu Korut sepertinya masih menjaga tensi perang dengan Korsel. Buktinya, ketika Korsel mengusulkan melanjutkan pembahasan reuni para keluarga yang terpisah akibat Perang Korea, tidak direspons. Korut tidak memberikan tanggapan terbuka tentang usulan ini.

Perang Korea yang terjadi pada 1950 hingga 1953 berhenti dengan perjanjian gencatan senjata bukan perjanjian damai. Hal tersebut menjadikan Korsel dan Korut pada dasarnya masih berseteru.

Salah satu dampak perang tersebut banyaknya keluarga yang anggotanya terpisah karena kawasan semenanjung dibagi menjadi dua.

Sekitar 60.000 warga lanjut usia di Korsel masih menaruh harapan dapat bertemu dengan keluarga mereka yang berada di Korut setelah kesepakatan reuni yang terakhir dilakukan pada 2015.

Pyongyang pernah menyampaikan tidak akan ada lagi reuni kecuali Korsel bersedia mengembalikan sejumlah warga negara Korut.

Kesempatan tersebut diambil untuk dimulainya kembali pembahasan unifikasi. Media Korut bahkan menulis kemungkinan dilakukannya unifikasi tanpa perlu ada perantara negara lain.

Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung-wha mengatakan, adanya kontingen Korut di olimpiade musim dingin akan semakin menunjukkan profil ajang olimpiade sebagai simbol perdamaian.

Dunia menyambut baik dua pertemuan itu, termasuk Amerika Serikat, hingga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Namun AS juga nyinyir dengen menganggap ini akal-akalan Korut menunda waktu untuk mengembangkan program senjata nuklirnya.

“Amerika masih melakukan konsultasi dengan pejabat-pejabat Korsel yang akan memastikan bahwa keikutsertaaan Korut dalam Olimpiade Musim Dingin tidak melanggar sanksi-sanksi yang diberlakukan Dewan Keamanan PBB terkait program rudal balistik dan nuklir ilegal Korut,” demikian pernyataan resmi Departemen Luar Negeri Amerika.

Presiden Korsel, Moon Jae-In mengatakan Presiden AS, Donald Trump perlu diapresiasi atas tekanannya terhadap Korut sehingga perundingan antara Pyongyang dan Seoul dapat dimulai kembali setelah lebih dari dua tahun. “Pertemuan ini dimungkinkan karena adanya sanksi dan tekanan internasional yang diprakarsai Amerika Serikat,” kata Presiden Moon. RM

Check Also

Kasus Mahar Politik. Kalau Nyalla Dapat Tiket, Ceritanya Pasti Tak Begini

Wartaplus. Kasus mahar politik yang terjadi antara La Nyalla Mattalitti dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *