HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » HAI PAPUA » In Memoriam Pastor Tris
Ribuan umat Katolik memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Pastor Andreas Trismadi dtempat peristirahatannya yang terakhir/Mathias Refra

In Memoriam Pastor Tris

Oleh: Mathias Refra

…kalau kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu…” (Gus Dur)

TIGA PULUH DUA tahun lalu, ketika arah takdirnya membawa dan menempatkan dia bersama kedua orangtuanya dan tujuh saudara kandungnya di Arso III Kabupaten Jayapura, Andreas Trismadi adalah no body. Ketika itu, ia hanyalah satu dari pemuda kebanyakan warga transmigran asal Magelang, Jawa Tengah, yang (baru saja) tiba dan menetap di Arso III.

Oleh kalangan sangat terbatas yang mengenalnya ketika itu, Andreas Trismadi ‘cuma’ dikenal sebagai seorang pemuda sederhana yang tidak banyak cincong, santun, murah senyum, dengar-dengaran, dan suka menolong siapa saja yang datang padanya karena butuh bantuan.

Itulah sifat inheren, Pastor Tris, sapaan akrab Andreas di kemudian hari. Hingga sebelum meninggal dunia 31 Desember 2017, Pastor Tris, putra ketiga pasangan suami-istri Thomas Sumidi Pawiradihardja – Anastasia Tumirah, memang menonjol dengan sifat-sifat inherennya itu. Dan, sifat-sifat bawaan itulah yang kemudian mengubah sosok Andreas Trismadi dari no body menjadi “sesuatu”.

Sifat-sifat inheren itu pulalah yang menyebabkan ketika beredar kabar nyawa Pastor Tris meninggalkan raganya di malam menjelang pergantian tahun 2017 ke 2018 beredar, segera saja kabar duka itu menghentak banyak orang. Pihak pertama yang mula-mula tersentak tentu saja umat Katolik di lingkungan Keuskupan Jayapura. Reaksi spontan atas kabar duka itu adalah rasa kehilangan seorang sahabat, gembala, dan penolong, sehingga banyak yang lantas menitikkan air mata di detik-detik menjelang tahun baru (2018) yang biasanya disambut dengan suka-cita.

Perjalanan waktu jugalah yang memperlihatkan bahwa Pastor Tris dan keluarganya adalah satu noktah putih bagi siapa pun yang telanjur antipati dan mencap program transmigrasi tidak lebih dari sekadar memindahkan beban sosial dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia. Kehadiran dan keberadaan keluarga Thomas Sumidi di Arso III, kemudian memperlihatkan tuah dan kebenaran kalimat: seringkali berkah dan kemaslahatan juga berasal dari tempat-tempat yang tidak kita sukai.

Perjalanan waktu jualah kemudian membuktikan bahwa kehadiran keluarga Thomas Sumidi 32 tahun lalu di Arso III itu, bukanlah beban. Kehadiran keluarga ini justeru menjadi berkah bagi banyak orang. Tak hanya bagi umat Katolik: agama yang dianut keluarga Thomas Sumidi, melainkan lintas agama, lintas suku, lintas budaya, lintas status sosial.

Maka tidak syak lagi, mengemukalah pertanyan-pertanyaan ini: siapakah sesungguhnya Andreas Trismadi? Apa yang membedakan dia dengan sesama koleganya: para pastor diosesan di lingkungan Keuskupan Jayapura, sehingga kematiannya sedemikian mendatangkan kabut duka yang begitu terasa? Apa gerangan yang (telah) diperbuat Andreas semasa hidupnya selama 32 tahun di Tanah Papua hingga ribuan orang rela membuang waktu seharian mengikuti prosesi pemakamannya: mulai dari Gereja Gembala Baik Abepura hingga ke liang lahatnya di Bukit Bahagia, wilayah pebukitan yang bersebelahan dengan Kompleks SMA (dulu SPG) Teruna Bakti Waena Jayapura?

Setia pada Rutinitas

Lahir 15 Mei 1958 di Magelang, dan dibesarkan dalam keluarga dengan tradisi kekatolikan yang kental, menjadikan Andreas tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang rendah hati dan santun. Lingkungan yang sekaligus menjauhkan Andreas dari polusi semangat sektarian dan primordialisme sempit yang egoistik.

Takdir pula yang suatu hari di tahun 1986 mempertemukan Andreas dengan Kepala SPG Teruna Bakti (salah satu sekolah unggulan kala itu), Drs R Karsinu. Laksana botol bertemu penutupnya: sosok Andreas yang santun dan rendah hati, bertemu dengan mata awas R Karsinu sebagai seorang pendidik. Mata awas guru R Karsinu yang juga sesepuh masyarakat Jawa di Jayapura, segera menangkap “sesuatu yang spesifik” dalam diri Andreas Trismadi dan adiknya Barnabas Daryana (kini Vikaris Jenderal Keuskupan Jayapura).

Maka, R Karsinu pun membawa dua nama kakak beradik ini kepada Uskup Jayapura Mgr Herman Ferdinandus Maria Munninghoff OFM agar kedua kakak beradik tersebut dididik menjadi petugas gereja di lingkungan Keuskupan Jayapura. Rekomendasi R Karsinu, direspon Vikaris Jenderal Keuskupan Jayapura (saat itu) Pastor Fred Dijkmans OFM, dengan merekomendasikan Andreas masuk ke Sekolah Pendidikan Guru Agama Katolik (SPGAK) di Waena Jayapura.

Semasa menempuh pendidikan di SPGAK Waena, Hardus Desa melukiskan Andreas sebagai seorang pendengar atau pengamat yang baik, tenang, penurut, setia, dan taat. “Dia bukan seorang bintang, namun aspek-aspek itu kuat terpancar dari dirinya. Dia pribadi yang hangat sehingga kehadirannya selalu memberi makna atau warna tersendiri dalam suatu kebersamaan bersama orang lain,” ujar Hardus Desa, mendeskripsi sosok Pastor Tris yang dikenal dekat Hardus Desa sejak Pastor Tris menuntut ilmu di SPGAK (kini Sekolah Tinggi Pastorak Kateketik) Waena, hingga akhir hayatnya.

“SPGAK sebetulnya bertujuan menyiapkan tenaga-tenaga guru agama (Katolik) untuk tingkat SD. Namun de facto beberapa orang kemudian terpanggil menjadi suster dan pastor. Misalnya Wilhelmus Senawil, John Bunay, dan Anthon Belau,” tutur Hardus Desa, yang pada 1986 menjabat Kepala Sekolah PGAK Waena sekaligus “Bapak Asrama” SPGAK.

Andres pun demikian: terpanggil menjadi imam semasa menempuh studi di SPGAK. Maka selepas SPGAK, Andreas lantas melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologia (STFT) Fajar Timur Abepura, untuk kemudian ditahbiskan menjadi seorang imam diosesan oleh Uskup Jayapura Mgr Herman FM Munninghoff OFM pada 28 April 1996.

Sebelum berkarya di Jayapura sebagai seorang imam, Pastor Tris lebih dulu berkarya di Moanemani, Lembah Kamuu, Wamena, dan Oksibil.

Perjalanan waktu dan perubahan status seseorang kerap dapat mengubah penampilan seseorang. Namun hal itu tidak berlaku bagi Andreas Trismadi. Dia tetaplah sosok yang tenang, tidak banyak cincong, murah senyum, santun, dan penolong.

“Tidak pernah mengeluh atau sungut-sungut. Tidak banyak orang yang setia pada rutinitas. Pastor Tris tidak demikian. Dia amat setia pada tugas-tugas rutinnya sebagai seorang imam. Itulah sebabnya dia rajin mengunjungi umatnya dari rumah ke rumah. Memang karunia khusus yang dia miliki dibantu kacamatanya untuk menyembuhkan para penderita sakit atau menolong siapa saja yang butuh pertolongannya, membedakan dia dengan pastor-pastor lainnya,” tutur mantan Delagatus Pastoral Keuskupan Jayapura, Pit Maturbongs.

Meski demikian, kharisma sekaligus karunia khusus yang dimiliki Pastor Tris dan “kacamata ajaibnya” untuk membantu sesama yang butuh pertolongannya, tak urung sempat meyita perhatian pihak Keuskupan Jayapura. Kharisma dan karunia khusus yang pelan-pelan tumbuh dan dimiliki Pastor Tris itu, disikapi dengan hati-hati oleh pihak Keuskupan Jayapura.

“Bukan karena apa-apa. Semata-mata agar jangan sampai kharisma dan karunia khusus yang dia miliki itu mengganggu tugas-tugas pastoralnya. Ternyata dia punya solusi sendiri untuk menjaga keseimbangan antara menolong sesama lewat karunia khusus itu, berbarengan dengan melaksanakan rutinitas tugas-tugas pastoralnya,” ujar Hardus Desa, mantan Delagatus Pastoral dan Sekretaris Keuskupan Jayapura.

Tanpa Publikasi

Demikianlah Pastor Tris, ia tetaplah sosok yang setia, tidak pernah menuntut ini itu, tak banyak cincong, suka menolong siapa saja, dan sederhana: kakaternya seperti sedia kala, ketika lebih tiga dasawarsa silam pertama kali menginjakkan kakinya di Tanah Papua.

“Kesederhanaannya memungkinkan dia menolong dan melayani siapa saja, sampai-sampai lupa menolong dan memperhatikan dirinya sendiri. Kehadiran dan pelayanan dia telah menjadi berkat bagi Keuskupan Jayapura. Bukan malah menjadi beban. Dia melayani lintas agama dan lintas suku. Menolong semua orang, termasuk yang tidak dia kenal sekali pun. Dia irit bicara, dan bekerja tanpa publikasi,” tutur Neles Tebay, kolega Pastor Tris.

Setia dan total pada tugas-tugas pastoralnya tanpa banyak cincong apalagi mengeluh, tak pernah menghindar apalagi menolak siapa pun yang butuh pertolongannya, baik yang langsung mendatanginya maupun menghubunginya lewat telepon: kadangkala tak mengenal waktu alias kapan saja, sekaligus laksana pedang bermata dua.

Maka tatkala staminanya melorot, ketika kesehatan Pastor Tris terganggu, tidak banyak yang mengetahuinya. Pastor Tris enggan merepotkan orang lain dengan memberitahukan bahwa sejumlah penyakit tengah bersarang dan menggerogoti tubuhnya. Mencoba terus bertahan melaksanakan tugas-tugas rutinnya, kendati sejumlah penyakit tengah bermayam dalam tubuhnya, tak ayal membuatnya ambruk juga.

Pada 27 November 2017, ia dilarikan ke Rumah Sakit Dian Harapan, Waena Jayapura. Hanya lima hari dirawat di RS Dian Harapan, Pastor Tris kemudian diperboleh pulang. Namun dua pekan kemudian, ia kembali dirawat di RS Dian Harapan, untuk kemudian mengakhiri perjalanan dan karyanya di Tanah Papua pada malam 31 Desember 2017.

“Lewat Pastor Tris, kita mengenal seperti apa seorang gembala yang baik itu,” tutur Koordinator Jaringan Damai Papua, Pastor Neles Tebay Pr, sembari menitikkan air mata, ketika menyampaikan kata-kata perpisahan mewakili para sahabat sesama imam diosesan, sebelum perayaan misa requiem (misa arwah) di Gereja Gembala Baik Abpeura, Selasa 2 Januari 2018.

Aloysius Giay, salah satu tokoh umat Katolik di Keuskupan Jayapura mengenang Pastor Tris sebagai sosok yang pluralis.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Nama Pastor Tris tidaklah setenar atau sebesar mendiang Gus Dur, tokoh dan bapak pluralisme Indonesia itu. Akan tetapi, Pastor Tris jelas  telah melaksanakan salah satu legacy mendiang Gus Dur yang pernah berkata: “Lebih baik agama ibarat garam: meresap, menyebar, dan memberi manfaat dimana-mana tanpa kelihatan.”

Selamat jalan Pastor Tris. ***

Check Also

Kasus Mahar Politik. Kalau Nyalla Dapat Tiket, Ceritanya Pasti Tak Begini

Wartaplus. Kasus mahar politik yang terjadi antara La Nyalla Mattalitti dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *