HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Hukum » Dituntut 12,5 Tahun, Patrialis Baca Doa Kematian

Dituntut 12,5 Tahun, Patrialis Baca Doa Kematian

Wartaplus. Jaksa penuntut umum (JPU) telah menentukan tuntutan atas mantan Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar. Hukumannya relatif berat, 12,5 tahun bui, dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan. Patrialis tak terima dibeginikan. Dari mulut Patrialis terlontar doa kematian.

“Pertama saya mengucapkan Inalillahi wainailahi rojiun,” ujar Patrialis, seusai mendengar pembacaan tuntutan jaksa, di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Potongan ayat Al-Quran dari Surat Al-Baqarah ayat 156 itu merupakan doa bagi Muslim yang terkena musibah, seperti kematian. Yang artinya, “sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali”. Bisa jadi, Patrialis menganggap kisahnya ini sebagai musibah.

Sekalipun menganggap ini musibah, Patrialis tidak pasrah. Dia merasa tidak terima dengan pertimbangan-pertimbangan yang digunakan jaksa KPK dalam menyusun surat tuntutan. Perlawanan secara hukum, akan disampaikannya dalam sidang pembelaan pekan depan.

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada jaksa, banyak hal yang saya lihat itu adalah fiksi, semacam satu karangan yang dibuat berdasarkan fakta persidangan,” kata Patrialis tanpa merinci apa saja fiksi yang dimaksud.

“Sekali lagi saya tetap menghormati karena tugas jaksa penuntut umum adalah menuntut orang. Tugas saya sebagai terdakwa adalah mengungkapkan fakta, tidak sekadar membela diri,” tambahnya.

Di dalam persidangan, Jaksa menilai Patrialis terbukti menerima suap dari pengusaha daging impor beku, Basuki Hariman. Suap itu untuk mempengaruhi atau memenangkan putusan perkara Nomor 129/PUU-XIII/2015 dalam uji materi Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, di Mahkamah Konstitusi (MK).

Eks Hakim MK ini diduga menerima suap sebesar 50 ribu dollar AS (setara Rp690 juta) dan Rp4 juta dari total suap yang dijanjikan sebesar Rp2 miliar. Suap diberikan dari Basuki dan sekretarisnya Ng Fenny, melalui Kamaludin selaku perantara.

Dalam berkas tuntutan, Patrialis secara nyata membutuhkan uang untuk melunasi apartemen untuk Anggita Eka Putri. Anggita, bersama Patrialis ditangkap bersama saat sedang jalan-jalan di Mal Grand Indonesia, Jakarta, Januari lalu.

Kesaksian Anggita di persidangan sebelumnya, teman wanita Patrialis ini mengaku pernah dibelikan pakaian, mobil, dan uang oleh politisi PAN ini. Mobil jenis Nissan March, diberikan Patrialis di penghujung tahun 2016, sementara uang sebesar 500 dolar AS (setara Rp6,6 juta) diserahkan sebelum Patrialis menjalankan umrah pada Desember 2016.

Jaksa KPK menarik benang merah atas fakta-fakta yang terungkap di persidangan ihwal kasus Patrialis. Jaksa menyebut, Patrialis memerlukan dana untuk melunasi apartemen yang menjadi tanggungan Anggita.

“Terdakwa pada waktu itu nyata sedang memerlukan dana dengan jumlah sekitar Rp2 miliar untuk melunasi satu unit Apartemen Casa Grande Residence Tower Chianti lantai 41 unit 11 tipe 2BRD seharga Rp 2,2 miliar yang rencananya terdakwa beli secara tunai dengan pembelian hard cash untuk Anggita Eka Putri,” sebut Jaksa KPK.

Jaksa menyebut pada 22 Januari 2017, Patrialis telah membayar booking fee atau uang tanda jadi sebesar Rp50 juta menggunakan kartu kredit bank swasta. Jaksa menyebut Patrialis berencana untuk melunasi apartemen tersebut menggunakan mata uang asing. RM

Check Also

Farhat Abbas Laporkan Nikita Mirzani ke Polisi

WARTAPLUS – Farhat Abbas kembali mendatangi Polda Metro Jaya, Selasa, 16 Januari 2018. Kedatangan Farhat ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *