HEADLINE : Gara-Gara Status di Facebook Sekelompok Oknum Polisi Gebuk Wartawan Online di Timika - Ketua Umum Persipura: Yunior Buat Sejarah, Papua Gudangnya Sepakbola - Dewan Pers Sambangi Kantor Redaksi Wartaplus.com Lakukan Verifikasi - Bendera Bintang Kejora Berkibar di Banti Tembagapura - Sungguh Bejat, Kelompok Kriminal Bersenjata Perkosa Ibu Rumah Tangga di Tembagapura - Polda Papua Belum Terima Laporan Dugaan Korupsi KPU Intan Jaya ,
Rabu , 22 November 2017
Breaking News
Home » Ekonomi » Daya Beli Melemah, Sri Mulyani Ngeles Tapi Waspada
Sri Mulyani Indrawati

Daya Beli Melemah, Sri Mulyani Ngeles Tapi Waspada

Wartaplus. Menkeu Sri Mulyani Indrawati punya jurus baru menjawab pertanyaan wartawan soal melemahnya daya beli masyarakat. Caranya, dengan mengeluarkan jawaban yang kesannya “ngeles” sebelum kemudian bilang: kami waspada.

Hal ini diutarakan Sri Mulyani usai menghadiri acara seminar di auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta.

“Bagi pemerintah, yang paling penting bukan tidak mengatakan ‘oh ini tidak apa-apa’. Kami waspada, dan kami mencoba berikhtiar mencari data-data yang makin reliable sehingga pemerintah mampu beraksi atau mengantisipasi,” ujar Sri Mul.

Komentar Sri Mul ini merupakan reaksi atas catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut pertumbuhan pola konsumsi masyarakat sangat tipis di kuartal II-2017. Tercatat, tingkat konsumsi rumah tangga hanya tumbuh ke level 4,95% dari kuartai I-2017 yang sebesar 4,94%.

Tumbuh tipisnya konsumsi rumah tangga juga dikaitkan oleh banyaknya pusat perbelanjaan yang tutup akhir-akhir ini lantaran sudah mulai ditinggalkan para pelanggannya.

Namun, Sri Mul masih ngeles saat ditanya, apa benar tipisnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga karena adanya perubahan konsumsi pada generasi milenial. “Sekarang generasi milenial atau generasi Z dalam hal ini, seperti yang disampaikan Bapak Presiden dalam hasil semua survei bahwa memang mereka tidak mengkonsumsi baju, sepatu sama seperti generasi kami baby boomers,” katanya.

“Tapi mereka selalu update terhadap aplikasi dalam software, itu terutama anak-anak perkotaan, ini karena lebih kepada experience dan integrated,” tambahnya.

Nah, perubahan pola konsumsi ini menurut Sri Mul belum ditangkap oleh statistik ekonomi nasional, sehingga tidak masuk dalam hitungan konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu faktor penyumbang pertumbuhan ekonomi. “Banyak kegiatan ekonomi itu belum ter-capture di dalam statistik yang kita dalam hal ini jumlah maupun jenis konsumsinya masih tergantung 10 tahun survei yang sebelumnya, dan ini yang akan menjadi salah satu prioritas kita,” jelas dia.

Karena itu, Sri Mul mengungkapkan, pemerintah ke depan akan tetap menelusuri penyebab rendahnya daya beli masyarakat disaat pertumbuhan ekonomi nasional masih dalam angka yang positif. “Dunia sekarang menghadapi teknologi yang sangat cepat berubah, dan teknologi itu penetrasinya sangat besar di dalam kehidupan, dan mempengaruhi gaya hidup dan bisnis proses,” pungkasnya.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengamini jika pergerakan daya beli masyarakat masih melambat di kuartal III 2017. Namun, dia berharap sumbangan konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi bisa meningkat.

Peningkatan, menurutnya sudah terlihat di beberapa data perekenomian. Misalnya, dari pendapatan masyarakat hingga penjualan eceran. “Misalnya pendapatan, Nilai Tukar Petani (NTP) dan upah petani secara riil. Itu salah satu faktor bahwa daya beli sudah ada peningkatan,” ujar Dody di kantornya, Kamis (19/10).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP September 2017 secara nasional naik sekitar 0,61 persen dari 101,6 menjadi 102,22.  Lalu, dari penjualan eceran nasional turut meningkat sekitar 2,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus lalu. Padahal, penjualan eceran terkontraksi minus 3,3 persen (yoy) pada Juli 2017 karena berakhirnya momen Ramadan dan Lebaran pada penghujung Juni.

“Ada beberapa penjualan yang naik, seperti barang elektronik dan rumah tangga. Lalu, pengeluaran kelompok menengah atas, terlihat dari ritel modern yang meningkatkan penjualannya,” terangnya.

Sayang, Dody masih enggan memperkirakan berapa sumbangan atau pertumbuhan dari indikator konsumsi rumah tangga. Adapun data resminya baru akan dirilis oleh BPS pada awal November mendatang. Sementara pada kuartal II lalu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya sebesar 4,95 persen atau hanya meningkat tipis dari kuartal I 2017 sebesar 4,94 persen. Meski, secara struktur, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi kuartal II stagnan di kisaran 5,01 persen atau sama dengan kuartal I 2017. Pemicu lain adalah konsumsi pemerintah yang minus 1,93 persen. Sebab, pada kuartal I 2017, konsumsi pemerintah masih bisa tumbuh di angka 2,68 persen. RM

Check Also

Alfian Eko Prasetya d Melati Daeva Oktavianti

Hongkong Terbuka, Alfian Dan Melati Sukses Balaskan Dendam

Wartaplus. Pasangan ganda campuran, Alfian Eko Prasetya/Melati Daeva Oktavianti berhasil melewati hadangan pertamanya di babak kualifikasi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *