HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » BPS: Maret 2017, Jumlah Orang Miskin Bertambah

BPS: Maret 2017, Jumlah Orang Miskin Bertambah

Wartaplus. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan teranyar. Lembaga ini menyebutkan saat ini jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,7 juta orang pada Maret 2017, bertambah sekitar 6.900 orang dibandingkan jumlah September 2016 tercatat sebanyak 27,76 juta orang. Namun jika dilihat dari sisi persentase turun tipis.
“Dari persentase per Maret 2017 mencapai 10,64 persen  atau turun tipis 0,06 persen  dari persentase September 2016 yakni 10,7 persen,” kata Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, di Jakarta.

Lebih detail, Kecuk memaparkan, persentase penduduk miskin di wilayah perkotaan naik 188,18 ribu orang, dari 10,485 juta pada September 2016 menjadi 10,673 juta orang di Maret 2017. Sedangkan jumlah penduduk miskin di pedesaan turun 181,29 ribu orang, dari 17,278 juta pada September 2016, menjadi 17,098 juta orang di Maret 2017.
Menurutnya, peran komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan komoditas bukan makanan. Kemiskinan akibat masalah komoditas makanan  pada Maret 2017 mencapai 73,31 persen. Meningkat dibandingkan September 2016 sebesar 73,19 persen.
Dia menyebutkan jenis komoditas makanan yang berpengaruh terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan dan pedesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, gula pasir, mie instant, kopi bubuk dan kopi instant, dan bawang merah.
Sementara itu, untuk komoditas bukan makanan yang pengaruhnya besar adalah biaya perumahan, listrik, bensin, pendidikan, angkutan, kesehatan, dan perlengkapan mandi.
Sekadar informasi, dalam menghitung angka kemiskinan BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar di mana kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, yang diukur menurut garis kemiskinan.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Sairi Hasbullah, menambahkan, bertambahnya jumlah penduduk miskin pada periode tersebut disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran belanja dari masyarakat miskin. Sementara, jumlah pendapatannya hanya naik sedikit.
“D i sektor konstruksi pendapatan orang miskin yang bekerja di situ meningkat sekitar 2 persen, orang miskin yang bekerja di sektor perdagangan meningkat juga di atas 2 persen. Tapi inflasi naiknya lebih cepat, jadi kalau rata-rata pengeluaran orang miskin naik sekitar 2-3 persen, garis kemiskinannya naik di atas 3 persen,” sambungnya.
Sementara itu soal penurunan persentase kemiskinan di periode September 2016 hingga Maret 2017, lanjut Sairi, terjadi karena terjadi penambahan jumlah penduduk lebih cepat dari penurunan kemiskinan.  RM

Check Also

Ketua MK Kena 2 Kartu Kuning, Kalau Main Sepakbola Langsung Kartu Merah

Wartaplus. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat kembali kena semprit Dewan Etik MK. Ini kali kedua ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *