HEADLINE : Wabah Campak dan Gizi Buruk Menyebabkan Kematian di Asmat Diduga Keras Pelanggaran HAM Yang Serius - Tidak Semua Wilayah Asmat Bisa Dijangkau, September Hingga Januari 2018 Terdapat 568 Penderita Campak - Lukas Enembe dan Klemen Tinal Resmi Mendaftar ke KPU Papua - Pemprov Papua: ASN Terlibat Urusan Pilkada Harus Lepaskan Status Pegawai - ,
Breaking News
Home » Ekonomi » BPPT Klaim Miliki Metode Bikin Petani Panen Terus

BPPT Klaim Miliki Metode Bikin Petani Panen Terus

Wartaplus. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menawarkan cara pengolahan baru untuk mendongkrak produksi garam di dalam negeri. Mereka mengklaim terobosan baru tersebut bisa memangkas waktu panen dari 12 hari menjadi hanya 4 hari.

Kelangkaan dan tingginya harga garam di dalam negeri belakangan ini memecut kinerja pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Kemarin, Wakil Presiden Jusuf Kalla memanggil Kepala BPPT Unggul Priyanto, membahas masalah garam ke rumah dinasnya di Jakarta. Ikut hadir dalam rapat ini, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution.

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengungkapkan, dalam rapat dirinya menyampaikan metode untuk meningkatkan produksi garam. Menurutnya, BPPT memiliki terobosan untuk mempercepat waktu produksi garam. “Kita sebenarnya bisa memproduksi garam dengan lebih efisien dan cepat. Apabila sebelumnya petani garam menghabiskan waktu 12 hari untuk proses pengeringan air laut, bisa dipersingkat hanya menjadi 4 hari,” ungkap Unggul usai rapat.

Caranya, diterangkan Unggul, dengan meningkatkan kadar konsentrasi garam di air laut. Air laut secara intensif diputar di wadah pengolahan sebelum dialirkan ke lahan pengeringan. Menurutnya, kadar konsentrasi garam yang lebih tinggi, akan mempersingkat proses produksi garam dari biasanya butuh waktu 12 hari menjadi 4 hari saja. Hanya saja, butuh lahan yang lebih luas untuk menampung air laut yang telah diaduk.

Dia mengungkapkan, ada beberapa daerah yang telah dijajakinya untuk mengimplementasikan metode tersebut. Antara lain di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Alasannya, karena daerah ini masih memiliki banyak lahan kosong.

Unggul mengatakan, tidak sulit mengimplementasikannya. Nanti BUMN akan membantu implementasinya sehingga petani tidak memulai lagi dari awal. Jika bisa dilaksanakan, dengan lahan pertanian garam sekitar  25 ribu hektare (ha), pertanian garam bisa panen terus.

Dengan teknologi ini, Unggul berharatp, impor garam bisa distop. Saat ini produksi dalam negeri hanya 50 ribu ton per tahun. Sedangkan yang diimpor mencapai 2 juta ton. “NTB (Nusa Tenggara Barat), Sulawesi Selatan, Jeneponto kan juga termasuk tempat garam. Nanti Menko Maritim yang akan mengkoordinir. Kalau sukses, akan disampaikan ke daerah lain,” ungkapnya.

Deputi Bidang Teknologi Agro Industri BPPT, Eniya L Dewi menambahkan, dibutuhkan lahan minimal 300-400 ha dan dua  waduk untuk menerapkan teknologi tersebut. Dia mengaku sulit untuk mencari lahan seluas itu di Jawa.  Jika hanya 15 ha, hasilnya  tidak akan optimum.

Eniya menyampaikan pemerintah menimbang dua opsi perihal penyediaan lahan untuk peningkatan produksi garam. Pertama adalah membentuk korporasi antar para pemilik lahan produksi garam di Jawa untuk menerapkan teknologi yang dikaji BPPT. Dan, kedua, melakukan ekspansi ke Indonesia Timur. Menurut Eniya, wilayah NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan patut dijajaki karena memiliki lahan luas dan curah hujan rendah. “Kalau ada 15 ribu ha, kita bisa produksi garam 500 ribu ton,” jelasnya. RM

Check Also

OSO Kantongi SK Menkumham, Wiranto: Tidak Ada Munaslub

Wartaplus. Konflik internal yang melanda Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) bakal reda. Pasalnya, tidak ada agenda ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *