Ekonomi

Beras & Cabe Naik Karena Cuaca Buruk, Rakyat Miskin Gigit Jari

Kepala BPS Suhariyanto

Wartaplus. Kabar buruk datang dari Badan Pusat Statistik (BPS). Lembaga pemerintah non kementerian ini mencatat adanya inflasi sebesar 0,20 % di November 2017 yang dipicu kenaikan harga seperti beras dan cabai akibat cuaca buruk. Kasihan, rakyat miskin semakin gigit jari.

“Kenaikan harga yang cukup signifikan dan berpengaruh pada inflasi pada kelompok bahan makanan, yaitu kenaikan harga bawang merah, cabai merah, dan beras,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, di kantornya.

Berdasarkan data BPS, harga cabai merah memberikan andil pada laju inflasi sebesar 0,06%, beras memberikan andil  pada laju inflasi sebesar 0,03%, dan bawang merah sebesar 0,02%. Komoditas lain yang mengalami kenaikan adalah mie dan rokok serta kretek filter masing-masing sebesar 0,01%.

Sebaliknya, komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga menahan inflasi selama November adalah penurunan harga apel, jeruk, tomat buah, dan bawang putih masing-masing sebesar 0,01%.

Diungkapkan, di bulan November harga beras di penggilingan mengalami kenaikan. Kenaikan terjadi untuk seluruh jenis dan kualitas beras, baik beras premium, medium, maupun beras kualitas rendah. Rinciannya, harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.539 per kilogram (kg), atau naik 0,38% dibanding bulan sebelumnya.

Sementara rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.280 per kg atau naik sebesar 1,79%. “Demikian juga rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.039 per kg, naik sebesar 2,33%,” katanya.

Tak hanya itu, dibanding November 2016 rata-rata harga beras di penggilingan pada periode ini mengalami kualitas untuk semua kualitas. Untuk jenis premium naik sebsear 3,05%, kualitas medium naik sebesar 2,54% dan kualitas rendah sebesar 4,72%.

Pria yang akrab disapa Kecuk ini melanjutkan, harga gabah pun mengalami kenaikan baik untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar 1,52% atau gabah kering giling (GKG) di tingkat petani sebesar 1,11%. Pada November 2017, harga GKP di tingkat petani mencapai Rp4.864 per kg. Sedangkan harga GKG mencapai Rp5.593 per kg. Untuk rata-rata harga gabah kualitas rendah naik 2,86% menjadi Rp4.4940 per kg.

“Ini memang dari sisi stok sendiri jumlahnya jauh lebih kecil. Cuaca di beberapa daerah juga kurang bersahabat. Jadi berpengaruh ke harga gabah, cabai merah dan beberapa komoditas lainnya,” pungkasnya.

Menanggapi ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap inflasi di bulan mendatang tidak berasal dari gejolak harga pangan. Untuk itu, perlu dilakukan koordinasi antar kementerian terkait menekan gejolak harga pangan agar target inflasi 4% plus minus 1% bisa tercapai akhir tahun ini.

“Kita tidak berharap bahwa inflasi itu berasal dari faktor yang sifatnya cost plus seperti komoditas. Jadi oleh karena itu, nanti pasti dari Menko dan menteri-menteri terkait terutama yang selama ini telah jaga pangan stabil akan tetap bisa continue sampai tahun depan, terutama jelang tahun baru dan kemudian antisipasi lebaran juga. Jadi saya rasa berbagai program untuk jaga stabilitas harga pangan itu harus dijaga,” kata Sri Mulyani dalam acara Bisnis Indonesia Economic Challenges 2018 di Hotel Raffles, Jakarta.

Sri Mul menjelaskan, saat ini memang terjadi cuaca ekstrem yang mempengaruhi harga komoditas pangan. Dia berharap, sistem distribusi pangan dengan kondisi tersebut tidak terpengaruh banyak agar pasokan pangan yang berujung pada kenaikan harga.

“Jadi kita akan lihat di musim hujan ini diharapkan jumlah stoknya, maupun konektivitas melalui logistik tetap terjaga sehingga inflasi tidak meningkat. Namun kalau dari sisi jumlah rasanya sudah diantispasi, jadi demand side berdasarkan seasonal rasanya sudah diantisipasi,” pungkasnya. RM

Leave a Reply

*

*

advertisment
advertisment
advertisment